
SERANG – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lingkungan Domba, Kelurahan Lopang, Kota Serang, Banten, berlangsung semarak. Namun di balik keramaian Tradisi Ngeropok, tersimpan pesan sosial yang membuat perayaan keagamaan ini tetap dekat dengan kehidupan masyarakat: berbagi dan mempererat persaudaraan.
Tradisi tersebut menjadi puncak rangkaian peringatan Maulid yang melibatkan warga secara langsung. Anak-anak, orang dewasa hingga para tokoh masyarakat tumpah ke jalan dengan wajah penuh antusias ketika pembagian berkat dari ornamen Panjang Mulud dimulai pada Selasa.
Sebelum sampai pada tahap Ngeropok, warga terlebih dahulu membuat ornamen Panjang Mulud secara swadaya. Hiasan tersebut kemudian dijemput dari rumah ke rumah untuk diarak mengelilingi kampung. Iringan shalawat dan tabuhan marawis menghidupkan suasana sekaligus menjadi penanda bahwa perayaan Maulid telah memasuki tahap penting.
Setelah tiba di masjid, seluruh Panjang Mulud dikumpulkan dan didoakan bersama. Isi yang telah disiapkan warga kemudian dikemas untuk dibagikan kepada masyarakat dalam tradisi Ngeropok.
Ketua Penyelenggara Kegiatan Muhammad Robi mengatakan antusiasme warga tahun ini sangat tinggi. Sebanyak 104 Panjang Mulud berhasil dikumpulkan, dengan beragam isi mulai dari sembako, perabotan rumah tangga, pakaian hingga uang tunai.
“Melalui Tradisi Ngeropok, barang-barang ini kami distribusi untuk warga di empat kampung lain,” ujar Robi di Serang, Selasa (25/08/2026).
Menurutnya, pembagian tidak semata-mata berorientasi pada kemeriahan. Sejumlah kelompok mendapat perhatian khusus, seperti anak-anak, pemandi jenazah, ustadz, guru ngaji, serta masyarakat umum yang membutuhkan. Pola tersebut memperlihatkan bagaimana perayaan Maulid sekaligus menjadi ruang berbagi yang melibatkan banyak unsur masyarakat.
Bagi warga, Ngeropok juga menghadirkan pengalaman sosial yang sulit ditemukan dalam kegiatan sehari-hari. Amrin (52), salah seorang warga, menilai tradisi tersebut membuat hubungan antartetangga semakin dekat karena semua kalangan dapat berkumpul dalam suasana yang cair dan penuh kegembiraan.
“Keseruan saat Ngeropok itu yang selalu bikin kangen tiap tahun. Anak-anak sampai bapak-bapak kumpul semua dari jalanan sampai masjid. Kita bersedekah dengan hati riang gembira sehingga warga makin guyub,” kata Amrin.
Tradisi Panjang Mulud sendiri telah menjadi salah satu warna khas perayaan Maulid di Banten. Di Lingkungan Domba, tradisi tersebut terus dipertahankan melalui keterlibatan warga dari proses pembuatan, pengumpulan, arak-arakan hingga pembagian. Dengan cara itu, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak hanya berlangsung sebagai seremoni keagamaan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial dan semangat gotong royong. (red)





