Pramono Tegaskan Ciangir Tangerang Bukan TPA! Lahan 40 Hektare Disiapkan Jadi Kawasan Ketahanan Pangan Modern.

KABUPATEN TANGERANG – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa kawasan Pusat Olah Organik (POO) Ciangir di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, bukan dibangun sebagai tempat pembuangan sampah baru. Sebaliknya, kawasan seluas 40 hektare itu akan dikembangkan menjadi pusat ketahanan pangan terpadu yang memanfaatkan hasil pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi.

Penegasan tersebut disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat meninjau langsung lokasi POO Ciangir, Jumat (31/7/2026). Menurutnya, material yang dikirim dari Jakarta bukan berupa sampah mentah, melainkan pupuk organik hasil pengolahan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang telah beroperasi di sejumlah wilayah ibu kota.

“Yang akan dibawa ke sini nantinya adalah pupuknya, pupuk hasil dari TPS3R yang ada di Jakarta. Tempat ini bukan tempat untuk sampah, tetapi kawasan ketahanan pangan yang mendukung peternakan, perikanan, dan pertanian,” ujar Pramono.

Ia menjelaskan, pembangunan POO Ciangir merupakan bagian dari sistem pengelolaan sampah modern yang diterapkan DKI Jakarta. Dalam skema tersebut, sampah dipilah sejak awal menjadi beberapa kategori, mulai dari sampah organik, anorganik, material yang dapat diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), hingga residu. Dengan sistem tersebut, volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang diharapkan terus berkurang sehingga pengelolaan limbah menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan pengembangan POO Ciangir dilakukan secara bertahap. Pada fase awal, fasilitas tersebut dirancang mampu mengolah sekitar 50 ton bahan organik per hari, kemudian ditingkatkan menjadi 200 ton, hingga mencapai kapasitas 1.000 ton per hari sesuai kesiapan anggaran dan pembangunan infrastruktur.

Pengembangannya dilakukan bertahap. Target awal 50 ton per hari, kemudian menuju 200 ton, dan pada tahap akhir bisa mencapai 1.000 ton per hari,” kata Dudi.

Menurut Dudi, kawasan POO Ciangir akan menerapkan konsep ekonomi sirkular, yakni seluruh hasil pengolahan dimanfaatkan kembali dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Pada tahap pertama, kawasan ini akan dilengkapi fasilitas biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF), budidaya ikan air tawar, peternakan ayam, hingga lahan pertanian yang memanfaatkan pupuk organik hasil pengolahan.

Maggot BSF akan digunakan sebagai sumber pakan alternatif berprotein tinggi bagi sektor perikanan dan peternakan, sedangkan limbah hasil budidayanya atau kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Hasil panen pertanian, budidaya ikan, ternak, hingga produk turunannya juga akan dipasarkan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi hijau yang berkelanjutan.

“Seluruh proses tersebut dirancang sebagai satu ekosistem yang saling terhubung sehingga menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan,” jelas Dudi.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah membebaskan lahan sekitar 40 hektare di Desa Ciangir sebagai bagian dari strategi besar reformasi pengelolaan sampah Jakarta. Pemerintah berharap keberadaan POO Ciangir menjadi model baru pengelolaan sampah organik yang tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga mampu menghasilkan pupuk, pakan ternak, dan produk pangan yang memberi nilai tambah bagi masyarakat serta mendukung ketahanan pangan regional. (red)

Artikulli paraprakTak Hanya Ngaji, Santri Tangsel Kini Dibekali AI, Digital Marketing, dan Literasi Digital