
LEBAK – Musim panen durian dan manggis di Kabupaten Lebak, Banten, bukan hanya menghadirkan buah melimpah, tetapi juga membuka banyak peluang penghasilan bagi masyarakat. Perputaran ekonomi terasa dari kebun hingga lapak penjualan, melibatkan petani, pemetik, buruh angkut, sopir, penampung, hingga pedagang.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan, panen durian dan manggis tahun ini berlangsung di sejumlah wilayah, di antaranya Leuwidamar, Cirinten, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik, Cijaku, Cigemblong, Cibeber, Cilograng, Bayah, Cipanas, Lebak Gedong, Panggarangan, Cihara, Cikulur, dan Cimarga.
Menurut Rahmat, komoditas hortikultura tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi masyarakat pedesaan. Tingginya aktivitas selama musim panen turut menciptakan kebutuhan tenaga kerja sekaligus menggerakkan sektor transportasi dan perdagangan.
“Kami berharap petani terus mengembangkan pertanian hortikultura jenis durian guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Rahmat dalam keterangannya di Lebak.
Dampak musim panen juga dirasakan Ari (50), bandar penampung durian dan manggis yang beraktivitas di kawasan Jalan Selatan Rangkasbitung. Untuk memenuhi permintaan pasar, ia mempekerjakan sekitar 50 orang dan mampu menyalurkan hingga 5.000 butir durian setiap hari.
Dengan harga rata-rata Rp20 ribu per butir di tingkat penampung, nilai transaksi durian yang ditanganinya dapat mencapai sekitar Rp100 juta per hari. Pasokan tersebut kemudian didistribusikan kepada pedagang eceran di Rangkasbitung, Jakarta, hingga sejumlah daerah di Jawa Barat.
“Kami mendapatkan pasokan durian dan manggis di sejumlah kecamatan di Lebak, seiring musim panen melimpah dari Agustus dan dipastikan Oktober mendatang,” ujarnya.
Di tingkat pengecer, perputaran uang dari komoditas tersebut semakin besar. Suri, pedagang durian di Gang Kibun Rangkasbitung, mengaku mempekerjakan 10 orang untuk melayani pembeli. Dalam sehari, lapaknya dapat menghabiskan sekitar 1.000 butir durian dengan harga rata-rata Rp50 ribu per buah, atau nilai penjualan sekitar Rp50 juta per hari.
Suri mengatakan, durian asal masyarakat Badui menjadi salah satu yang banyak dicari konsumen. Buah tersebut dinilai memiliki daging tebal, aroma kuat, serta rasa manis yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pencinta durian.
“Kami merasa kewalahan permintaan durian khas Baduy hingga rombongan dan anggota keluarga, sehingga terlayani dengan menyerap 10 tenaga kerja,” katanya.
Melimpahnya panen yang berlangsung sejak Agustus hingga diperkirakan berlanjut sampai Oktober membuat musim durian dan manggis menjadi momentum penting bagi ekonomi masyarakat Lebak. Selain meningkatkan pendapatan petani, komoditas tersebut ikut menghidupkan rantai usaha dari kebun, distribusi, hingga perdagangan di tingkat konsumen. (red)





