Seba Baduy 2026: Tradisi Sakral, Cuan Mengalir Deras di Rangkasbitung

LEBAK — Di balik langkah sunyi masyarakat Baduy yang berjalan kaki dari pedalaman, denyut ekonomi justru berdetak kencang di pusat Kota Rangkasbitung. Seba Baduy 2026 tak hanya menghadirkan nilai sakral tradisi, tetapi juga menjadi berkah nyata bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat sekitar.

Sejak pagi hingga malam, Alun-alun Rangkasbitung dipadati ribuan pengunjung yang datang untuk menyaksikan rangkaian acara. Keramaian ini berdampak langsung pada lonjakan aktivitas ekonomi, mulai dari pedagang kaki lima, pelaku UMKM, hingga sektor jasa.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lebak, Yosep Muhamad Holis, menyebut Seba Baduy sebagai momentum strategis yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.

“Seba Baduy ini bukan hanya ritual adat, tapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat,” ujarnya.

Di sepanjang area acara, lapak kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga produk lokal diserbu pengunjung. Banyak pedagang mengaku omzet mereka meningkat drastis dibanding hari biasa, bahkan dalam satu hari bisa melampaui pendapatan mingguan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya mampu menjadi penggerak ekonomi berbasis komunitas. Tradisi yang dijaga ratusan tahun justru menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Tak hanya UMKM, kehadiran berbagai instansi dan stand layanan publik turut menambah daya tarik. Interaksi antara masyarakat, pelaku usaha, dan layanan publik menciptakan ekosistem kegiatan yang hidup dan dinamis.

Sementara itu, ribuan warga Baduy yang mengikuti prosesi Seba tetap berjalan dalam kesederhanaan, membawa hasil bumi sebagai simbol penghormatan kepada pemerintah. Kontras ini menghadirkan pesan kuat: di satu sisi tradisi dijaga, di sisi lain ekonomi tumbuh.

Pemerintah Kabupaten Lebak berharap momentum ini dapat terus dikembangkan sebagai kekuatan wisata budaya yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, Seba Baduy diyakini mampu menjadi ikon yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menyejahterakan.

Di tengah hiruk pikuk keramaian, satu hal menjadi jelas: ketika tradisi tetap hidup, ekonomi ikut bergerak. (red)

Artikulli paraprakJangan Salah Input! Kepala Dindikbud Banten Tegaskan Pra SPMB Bisa Jadi Penentu Lolos atau Gugur