Sekolah Jadi Benteng, Tangerang Perkuat Literasi Digital Pelajar. (ilustrasi AI)

TANGERANG — Sekolah kini tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik. Di tengah derasnya penggunaan internet dan media sosial, lingkungan pendidikan juga dituntut menjadi ruang pembentukan karakter digital agar pelajar mampu menggunakan teknologi secara cerdas sekaligus bertanggung jawab.

Kebutuhan tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) yang menggelar Sosialisasi Literasi Digital di SMA Negeri 1 Kabupaten Tangerang, Rabu (26/8/2026). Sebanyak 150 siswa kelas 10, 11 dan 12 mengikuti kegiatan yang dikemas interaktif melalui pemaparan materi, diskusi, tanya jawab hingga kuis edukatif bersama narasumber Nizar Fachri.

Sekretaris Diskominfo Kabupaten Tangerang Akhmad Farhan mengatakan, perkembangan teknologi telah memberikan ruang luas bagi generasi muda untuk belajar, berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kesadaran bahwa setiap aktivitas di internet meninggalkan rekam jejak yang dapat berdampak pada kehidupan seseorang di kemudian hari.

“Masih rendahnya kesadaran mengenai jejak digital yang ditinggalkan setiap aktivitas di internet. Apa yang kita unggah, komentari atau bagikan di media sosial dapat tersimpan dalam waktu yang lama dan berpotensi memengaruhi kehidupan kita di masa depan,” tegas Farhan.

Besarnya penggunaan internet membuat edukasi semacam ini semakin relevan. Badan Pusat Statistik mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023. Angka tersebut memperlihatkan bahwa ruang digital semakin melekat dalam kehidupan masyarakat, termasuk generasi usia sekolah.

Farhan juga mengingatkan bahwa persoalan di dunia maya bukan hanya soal informasi palsu atau keamanan data. Perundungan siber menjadi salah satu ancaman yang perlu dikenali pelajar karena ejekan, penghinaan maupun penyebaran informasi yang merugikan dapat meninggalkan dampak psikologis terhadap korban. Karena itu, siswa didorong tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga memiliki keberanian menghentikan perilaku yang merugikan orang lain.

“Kami berharap para siswa dapat memahami pentingnya menggunakan media sosial secara bijak, bertanggung jawab dan beretika. Selain itu, siswa juga diharapkan mampu mengenali risiko-risiko yang ada di ruang digital, memahami konsekuensi dari jejak digital serta memiliki keberanian untuk mencegah dan melawan segala bentuk cyberbullying,” ujarnya.

Kepala SMA Negeri 1 Kabupaten Tangerang, Ruri, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pembekalan literasi digital perlu diteruskan melalui lingkungan sekolah agar pengetahuan yang diperoleh siswa tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Ia berharap para peserta dapat menularkan pemahaman tersebut kepada teman-temannya sehingga tercipta budaya bermedia sosial yang lebih sehat.

“Ini penting untuk anak-anak kita agar mereka bijak dalam menggunakan medsos. Oleh karena itu juga, ilmu-ilmu yang didapat itu harusnya nanti di-share ke teman-temannya,” ungkap Ruri.

Langkah tersebut sejalan dengan perhatian Pemkab Tangerang terhadap pembangunan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dalam kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter dan daya saing di tengah perubahan teknologi. Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid sebelumnya menekankan bahwa generasi muda membutuhkan kemampuan berpikir kritis, integritas dan literasi digital yang baik untuk menghadapi disrupsi teknologi serta derasnya arus informasi.

Bagi Pemkab Tangerang, penguatan literasi digital juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem digital yang aman. Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 turut menekankan bahwa pelajar perlu dibekali kemampuan mengenali risiko, menjaga data pribadi, menggunakan teknologi secara etis serta menyeimbangkan aktivitas digital dengan kehidupan sosial sehari-hari.

Dari ruang kelas SMA Negeri 1 Kabupaten Tangerang, pesan yang dibangun pun sederhana: teknologi seharusnya menjadi alat untuk berkembang, bukan ruang untuk saling menyakiti. Dengan membekali pelajar sejak bangku sekolah, pemerintah dan satuan pendidikan berharap lahir generasi yang bukan hanya aktif di dunia digital, tetapi juga mampu menjaga etika, menghormati sesama dan bertanggung jawab atas setiap jejak yang mereka tinggalkan. (red)

Artikulli paraprakRemaja Tangsel Dihadapkan Dunia Digital, Benyamin: Jadilah Anak yang Punya Nilai