
TANGSEL – Dunia digital membuat kehidupan remaja berubah begitu cepat. Telepon genggam kini bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga menjadi ruang belajar, bersosialisasi, mencari hiburan hingga tempat mencurahkan persoalan pribadi. Di tengah perubahan tersebut, Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie mengingatkan pentingnya kemampuan memilih agar teknologi tidak justru menjadi sumber persoalan kesehatan mental.
Pesan itu disampaikan Benyamin ketika membuka Seminar Kesehatan Remaja yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel di Ruang Blandongan, Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel, Rabu (26/8/2026). Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda dibandingkan generasi sebelumnya karena sebagian besar interaksi telah bergeser ke ruang digital.
Benyamin menilai perkembangan teknologi pada dasarnya memberikan banyak manfaat. Namun, penggunaan yang tidak terkendali dapat membuat remaja semakin jauh dari interaksi langsung dengan keluarga maupun lingkungan sekitar. Karena itu, kesehatan mental perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak.
“Kesehatan mental ini sangat berpengaruh untuk masa depan kalian dan ini harus dijaga banget,” ujar Benyamin.
Fenomena tersebut sejalan dengan perubahan pola kehidupan anak dan remaja di era internet. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, menunjukkan betapa kuatnya teknologi digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagi kelompok usia muda, ruang digital bahkan telah menjadi bagian dari aktivitas sosial, pendidikan dan hiburan.
Benyamin menyoroti kondisi ketika komunikasi dengan teman di dunia maya justru lebih intens dibandingkan percakapan bersama keluarga. Padahal, orang tua, saudara dan guru merupakan lingkungan terdekat yang semestinya dapat menjadi tempat pertama bagi remaja untuk berbagi persoalan.
“Padahal ibu kamu ada di sebelah kamu, bapak kamu ada di sebelah kamu, kakak kamu juga ada di sebelah kamu. Ada di rumah, tapi kenapa curhatnya selalu sama teman saja,” katanya.
Menurut Benyamin, menjaga kesehatan mental tidak cukup dilakukan dengan membatasi penggunaan gawai. Remaja juga perlu memiliki fondasi nilai agar mampu menentukan mana yang baik dan buruk ketika berhadapan dengan berbagai informasi, tren maupun tekanan sosial di internet. Nilai tersebut antara lain kejujuran, rajin belajar, menghormati orang tua dan guru, berbuat baik kepada teman serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
“Dalam diri kamu harus punya nilai. Jangan menjadi kertas kosong yang tidak punya nilai,” ucapnya.
Ia juga meminta remaja membiasakan diri mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan. Menjauhi kekerasan, penggunaan senjata tajam dan pergaulan bebas, menurut Benyamin, merupakan bagian dari kemampuan menjaga diri sekaligus membangun karakter positif sejak dini. Baginya, keputusan penting dalam kehidupan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada orang tua, sekolah maupun pemerintah.
“Pilihan bukan ada di ibu kamu, pilihan bukan ada di orang tua kamu, pilihan bukan ada di pemerintah kota, tapi ada di diri sendiri untuk jadi orang bernilai. Jadi ingat ya, pilih keputusan dengan baik,” tegasnya.
Benyamin menambahkan, perlindungan kesehatan mental remaja membutuhkan ekosistem yang saling mendukung. Orang tua harus hadir sebagai tempat aman untuk bercerita, sekolah berperan membangun karakter dan lingkungan sosial yang sehat, sementara pemerintah memperkuat edukasi serta layanan kesehatan bagi generasi muda. “Antara orang tua, guru, dan Pemerintah Kota harus dalam satu kesatuan yang utuh menjaga anak dari kesehatan mental ini,” tuturnya. (red)





