
TANGERANG – Tujuh puluh menit pertandingan berjalan, Lionel Messi menunduk. Penalti yang gagal, skor 0-2, dan mimpi mempertahankan gelar dunia nyaris berakhir di hadapan ribuan pasang mata. Namun hanya dalam hitungan 13 menit, sang kapten mengubah kepanikan menjadi keajaiban. Argentina bangkit, membalikkan keadaan menjadi 3-2 atas Mesir, dan sekali lagi membuktikan bahwa selama Messi masih berdiri di lapangan, tak ada pertandingan yang benar-benar selesai.
Tak banyak yang menyangka, justru dari titik terendah itulah keajaiban lahir. Selama lebih dari satu jam, Mesir tampil nyaris sempurna. Mereka bertahan disiplin, menyerang efektif, dan memiliki Mostafa Shobeir yang tampil luar biasa di bawah mistar. Penalti Messi berhasil dimentahkan, sementara gol Yasser Ibrahim dan Mostafa Ziko membawa wakil Afrika unggul dua gol. Sampai menit ke-79, sejarah tampak sudah memilih pihaknya.
Lalu datanglah momen yang akan terus diputar dalam dokumenter Piala Dunia bertahun-tahun mendatang. Cristian Romero memperkecil ketertinggalan pada menit ke-79. Empat menit kemudian, Messi yang sempat menjadi sorotan karena kegagalan penaltinya menebus semuanya lewat gol penyama kedudukan. Stadion bergemuruh. Wajah-wajah yang semula pasrah berubah menjadi lautan harapan. Ketika pertandingan memasuki injury time, Enzo Fernández menyambut umpan Lautaro MartÃnez dan mengirim bola ke gawang Mesir. Skor berubah menjadi 3-2. Dalam sekitar 13 menit, Argentina membalikkan kenyataan.
Peluit panjang berbunyi. Messi tidak berlari melakukan selebrasi berlebihan. Ia justru menunduk, lalu menangis. Air mata itu bukan sekadar luapan kegembiraan. Itu adalah pelepasan dari tekanan yang telah menghantuinya sejak gagal mengeksekusi penalti. Pelatih Lionel Scaloni bahkan mengaku ikut meneteskan air mata melihat karakter timnya yang menolak menyerah hingga detik terakhir.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia Kesit Budi Handoyo, pertandingan ini menjadi bukti bahwa mental juara tidak dibangun saat sebuah tim unggul, melainkan ketika mereka berada di ujung kekalahan. Dalam analisisnya di berbagai program sepak bola nasional, Kesit menilai Argentina memiliki kualitas yang sulit dimiliki banyak tim: tetap percaya pada rencana permainan ketika keadaan tampak mustahil dibalikkan.
Pandangan senada disampaikan Tommy Welly (Bung Towel). Menurutnya, kegagalan penalti Messi justru memperlihatkan sisi lain seorang legenda. “Pemain hebat bukan mereka yang tidak pernah gagal, tetapi mereka yang berani meminta bola lagi setelah gagal.” Messi mungkin kehilangan satu penalti, tetapi ia tidak kehilangan keberanian untuk menjadi pusat permainan ketika timnya paling membutuhkan.
Secara statistik, kemenangan ini juga menyimpan ironi. Ini merupakan kegagalan penalti kedua Messi di Piala Dunia 2026, sebuah catatan yang memicu perdebatan apakah Argentina perlu menunjuk algojo baru dari titik putih. Namun sejarah pertandingan ini justru akan lebih mengingat bagaimana Messi merespons kegagalannya daripada kegagalan itu sendiri. Ia mencetak gol penyama, mengangkat moral rekan-rekannya, dan membawa Argentina lolos ke perempat final.
Kini, Argentina bersiap menghadapi Swiss dengan modal yang jauh lebih berharga daripada sekadar tiket perempat final. Mereka membawa keyakinan bahwa pertandingan belum pernah benar-benar berakhir sebelum peluit panjang dibunyikan. Dan bagi Lionel Messi, malam di Atlanta mungkin akan dikenang bukan sebagai malam ketika ia hampir pulang, melainkan malam ketika ia sekali lagi menolak menyerah pada takdir.
Hampir saja dunia kehilangan bab terakhir Lionel Messi…





