KKN UMT: Sampah Dipilah, Lingkungan Cihuni Mulai Berbenah. (ilustrasi AI)

TANGERANG — Persoalan sampah tidak selalu bermula di tempat pembuangan akhir. Justru, perjalanan panjang sampah dimulai dari rumah, ketika sisa makanan, plastik, kertas dan berbagai barang bekas bercampur tanpa pemilahan. Kebiasaan sederhana tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) saat menggelar sosialisasi manajemen pengelolaan sampah di Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

Kegiatan yang berlangsung Rabu (19/8/2026) itu menjadi bagian dari program pemberdayaan 25 mahasiswa KKN selama berada di Desa Cihuni. Bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Iwan Setiawan Rofiq SE, MM, mahasiswa mengajak warga memahami alur pengelolaan sampah sejak dari rumah, tempat penampungan sementara hingga tempat pemrosesan akhir.

Pesan utama yang dibawa cukup sederhana: sampah tidak seharusnya langsung dianggap sebagai barang buangan. Sisa makanan, sayuran, buah, daun kering, kertas dan kardus yang dapat terurai secara alami masih bisa dimanfaatkan, salah satunya menjadi kompos. Sementara material seperti botol plastik, logam dan sejumlah kemasan dapat dipilah untuk digunakan kembali atau masuk ke rantai daur ulang.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Desa Cihuni, Iwan Setiawan Rofiq, memperkenalkan prinsip 5R sebagai kebiasaan yang dapat diterapkan masyarakat sehari-hari, yakni reduce, reuse, recycle, replace dan refuse. Reduce dilakukan dengan mengurangi barang yang berpotensi menjadi sampah, reuse dengan menggunakan kembali barang yang masih layak, sedangkan recycle mengolah material bekas menjadi produk baru. Replace berarti mengganti produk dengan pilihan yang lebih ramah lingkungan, sementara refuse mendorong masyarakat menolak barang yang tidak diperlukan atau berpotensi menjadi sampah.

Edukasi tersebut memiliki relevansi besar dengan persoalan persampahan nasional. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) untuk 278 kabupaten/kota pada 2025 mencatat timbulan sampah sekitar 29,20 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sampah yang tercatat terkelola baru sekitar 32,9 persen, sementara 67,1 persen masih masuk kategori tidak terkelola.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa pengurangan sampah dari sumbernya menjadi bagian penting dalam menghadapi beban pengelolaan sampah. Semakin banyak material yang berhasil dipilah, digunakan kembali, didaur ulang atau diolah menjadi kompos sejak dari rumah, semakin kecil pula volume yang harus dibawa menuju TPS dan TPA.

Mahasiswa KKN Desa Cihuni kemudian menerjemahkan materi tersebut dalam bentuk kegiatan nyata. Mereka menyediakan tempat sampah terpilah untuk organik dan anorganik, membuat tempat sampah dari galon bekas, serta memasang papan informasi mengenai kemampuan alam dalam mengurai berbagai jenis sampah. Ada pula papan informasi digital yang dilengkapi barcode berisi informasi mengenai Desa Cihuni.

Ketua KKN Desa Cihuni, Firgan Naufal, mengatakan tema persampahan dipilih setelah mahasiswa melihat kondisi lingkungan yang masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah. Program tersebut kemudian diarahkan menjadi langkah sederhana yang dapat langsung diterapkan masyarakat.

“Langkah pertama yang kita ambil dari tema ini karena kita melihat situasi di Cihuni. Sampah di sini berserakan banget, terus ada polemik tentang pengelolaan sampahnya di sini. Kita dari teman-teman KKN akhirnya mencoba mencari jalan keluar, walaupun hanya di RT saja mungkin sebagai lokasinya,” ujar Firgan.

Bagi warga, pemilahan juga memiliki manfaat ekonomi. Ketua RT setempat, Saepul Tarmuji, menilai masyarakat mulai memahami bahwa tidak semua barang bekas harus berakhir sebagai sampah. Botol plastik dan material tertentu, misalnya, dapat dipisahkan untuk dijual kembali sehingga memiliki nilai ekonomi.

“Sebelumnya pengelolaan sampah di sini kurang efektif. Sekarang, setelah ada program ini, masyarakat jadi tahu lebih baik lagi soal pemilahan sampah. Misalnya botol bekas air mineral, itu seharusnya bisa dipisah dan dijual, jadi ada nilai ekonominya juga,” kata Saepul.

Warga lainnya, Neni, menyambut positif keberadaan tempat sampah terpilah di lingkungan tersebut. Menurutnya, fasilitas sederhana itu membantu warga, khususnya para ibu rumah tangga, membiasakan diri menjaga kebersihan sekaligus memisahkan sampah berdasarkan jenisnya.

“Alhamdulillah, sangat baik buat saya pribadi, dan mungkin buat ibu-ibu yang lain juga yang ngontrak di sini. Apalagi ini menyangkut sampah, itu masalah banget buat ibu-ibu,” ungkap Neni.

Selain mengurangi beban TPS dan TPA, pemilahan dari rumah juga berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan. Sampah organik yang tercampur dan membusuk dapat menimbulkan bau, sedangkan tumpukan sampah yang masuk ke saluran air berpotensi menghambat aliran dan memperbesar risiko genangan. Sampah yang tidak tertangani juga dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai vektor penyakit.

Firgan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan Desa Cihuni. Menurutnya, perubahan paling penting justru terjadi ketika masyarakat mulai menjadikan pemilahan sebagai kebiasaan harian.

“Harapan aku dari program ini, masyarakat jadi paham mengenai tata kelola pengelolaan sampah. Karena membedakan organik dan anorganik itu sangat penting. Kalau dibiarkan jadi satu, lama-lama akan menimbulkan sampah yang lebih banyak,” ujarnya.

Program KKN yang berlangsung sejak 20 Juli hingga 20 Agustus 2026 tersebut kemudian diperpanjang sampai 25 Agustus untuk menyelesaikan sejumlah program kerja. Mahasiswa juga terlibat dalam kepanitiaan serta pendampingan kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Cihuni.

Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya meninggalkan fasilitas fisik, tetapi juga membawa pesan bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah desa, warga dan generasi muda dapat mengambil peran sejak sumbernya, karena sampah yang berhasil dikurangi dan dipilah hari ini berarti mengurangi beban lingkungan pada masa mendatang.

Pada akhirnya, perjalanan menuju lingkungan yang bersih tidak harus dimulai dari langkah besar. Memisahkan sisa makanan dari plastik, menggunakan kembali barang yang masih layak, mengurangi plastik sekali pakai dan mengolah sampah organik menjadi kompos merupakan kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga. Dari rumah itulah perubahan pengelolaan sampah di Desa Cihuni bisa dimulai. (red)

Artikulli paraprakTangsel Kejar Pemerataan Pendidikan, Dua SMP Negeri Disiapkan
Artikulli tjetërPersita di Liga 1, Bukan Cuma Soal Menang tapi Harga Diri Tangerang