
TANGSEL – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Sedikitnya 147 kepala keluarga (KK) yang tersebar di tujuh rukun tetangga (RT) di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat menurunnya ketersediaan sumber air selama beberapa pekan terakhir.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan air bersih melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hingga 20 Juli 2026, sebanyak 50 ribu liter air bersih telah didistribusikan secara bertahap kepada warga terdampak. Bantuan tersebut akan terus ditambah apabila kondisi kekeringan masih berlangsung dan kebutuhan masyarakat meningkat.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan kebutuhan air bersih menjadi prioritas utama pemerintah di tengah musim kemarau. Selain memastikan distribusi air tetap berjalan, Pemkot juga mulai menyiapkan solusi jangka menengah agar masyarakat tidak bergantung pada bantuan air bersih setiap musim kemarau.
“Sampai kemarin kami telah mendistribusikan kurang lebih 50 ribu liter air bersih. Jika masih diperlukan, distribusi air bersih akan terus kami tambah,” ujar Benyamin usai Rapat Koordinasi Forkopimda di Serpong, Selasa (21/7/2026).
Sebagai solusi berkelanjutan, Pemkot Tangsel berencana membangun sumur air dalam (deep well) yang dilengkapi toren berkapasitas besar di wilayah rawan kekeringan. Konsep tersebut mengadopsi sistem penyediaan air bersih yang sebelumnya telah diterapkan di kawasan Perumahan Pesona Serpong dan dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan warga saat musim kemarau.
“Untuk solusi jangka menengah, saya berencana membangun sumur air dalam yang dilengkapi toren berkapasitas besar, seperti yang telah kami bangun di Perumahan Pesona Serpong,” jelas Benyamin.
Selain pembangunan infrastruktur air, Pemkot Tangsel juga memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna memantau perkembangan musim kemarau, termasuk prakiraan durasi cuaca panas dan potensi hujan. Di saat bersamaan, komunikasi juga dilakukan dengan pengelola Bendung Katulampa, Bogor, untuk memonitor debit Sungai Cisadane yang berpengaruh terhadap ketersediaan air baku di wilayah Tangerang Selatan.
Komandan Peleton BPBD Kota Tangerang Selatan, Dian Wiryawan, menjelaskan wilayah terdampak kekeringan meliputi RT 001, RT 002, dan RT 003 RW 01, kemudian RT 004, RT 005, dan RT 006 RW 02, serta RT 013 RW 05 di Kelurahan Keranggan. Distribusi air bersih telah dilakukan sejak 8 Juli 2026 dengan volume pengiriman berkisar 5.000 hingga 13.000 liter per hari, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
“BPBD dari tanggal 8 Juli sampai 20 Juli sudah melakukan distribusi air total sebanyak 50 ribu liter. Pengiriman air rata-rata per harinya sekitar 5 ribu sampai 13 ribu liter air,” terang Dian.
Menurut Dian, pendistribusian air bersih melibatkan berbagai instansi, di antaranya Perumdam Tirta Kerta Raharja/PDAM wilayah pelayanan Serpong, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Kelurahan Keranggan, serta Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Kolaborasi lintas sektor tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Selain menangani krisis air bersih, Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran yang biasanya meningkat pada musim kemarau. Wali Kota Benyamin menginstruksikan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan untuk memperbanyak edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), penanganan kebakaran akibat kompor maupun korsleting listrik, sehingga dampak musim kemarau dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga. (red)





