Isra Mi’raj: Perspektif Sains, Teknologi, dan Kepemimpinan Profetik.

Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya tersimpan peristiwa agung yang menjadi poros peradaban Islam: Isra Mi’raj. Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha, bukan sekadar kisah spiritual, tetapi juga mengandung pesan ilmiah, teknologi, dan kepemimpinan yang melampaui zamannya.

 

Panggilan Langsung Sang Pemimpin Agung

Berbeda dengan syariat lain yang disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril, perintah shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan betapa shalat memiliki kedudukan sangat istimewa. Seolah Allah ingin menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Tuhannya tidak boleh berjarak.

Dalam perspektif kepemimpinan, ini adalah bentuk direct command dari Pemimpin Tertinggi kepada pemimpin umat. Seorang pemimpin besar tidak hanya menerima instruksi, tetapi juga memikul tanggung jawab moral atas umat yang dipimpinnya. Rasulullah tidak sekadar menerima perintah, tetapi berdialog—memikirkan kapasitas umatnya.

 

Negosiasi Ilahiah: Empati Seorang Pemimpin

Awalnya perintah shalat adalah lima puluh waktu sehari semalam. Atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah ﷺ berulang kali memohon keringanan hingga akhirnya menjadi lima waktu. Di sinilah tampak jiwa kepemimpinan profetik:

  1. Berpihak kepada umat Rasulullah memahami realitas manusia yang memiliki keterbatasan fisik dan psikologis.
  2. Keberanian berdialog – Beliau mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar menerima aturan, tetapi memperjuangkan kemaslahatan.
  3. Keseimbangan visi dan realitas Lima waktu shalat adalah titik temu antara idealitas langit dan kemampuan bumi.

Model ini relevan dengan kepemimpinan modern: pemimpin visioner adalah mereka yang mampu menerjemahkan nilai luhur menjadi kebijakan yang manusiawi dan aplikatif.

 

Shalat sebagai Identitas dan Teknologi Spiritual

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pembeda antara muslim dan kafir adalah shalat. Ia bukan sekadar ritual, melainkan sistem operasi ruhani bagi manusia.

Jika sains modern mengenal konsep charging energy, maka shalat adalah mekanisme pengisian energi jiwa lima kali sehari. Gerakan shalat mengandung unsur:

√ Biometrik tubuh: ruku dan sujud melancarkan aliran darah ke otak.

√ Mindfulness: kekhusyukan melatih fokus dan kestabilan emosi.

√ Sinkronisasi waktu: shalat mengajarkan manajemen waktu paling presisi dalam sejarah manusia.

Para ilmuwan neurologi menemukan bahwa repetisi doa dan gerakan teratur menurunkan hormon stres kortisol. Seakan sains hari ini baru menemukan apa yang telah disyariatkan 14 abad lalu.

 

Isra Mi’raj dan Imajinasi Teknologi

Perjalanan menembus langit pada masa manusia belum mengenal pesawat adalah isyarat bahwa:

  1. Ilmu Allah melampaui teknologi manusia.
  2. Kemajuan sains tidak boleh membatasi iman.
  3. Apa yang dianggap mustahil hari ini bisa menjadi biasa esok hari.

Konsep perjalanan supercepat mengingatkan kita pada teori relativitas, dimensi ruang–waktu, dan fisika kuantum. Isra Mi’raj menantang nalar manusia untuk terus meneliti tanpa kehilangan kerendahan hati.

 

Shalat: Tiang Peradaban

Shalat disebut sebagai tiang agama dan amalan pertama yang dihisab di yaumil akhir. Ini bukan hanya urusan individual, tetapi fondasi sosial:

√√ Disiplin waktu membentuk budaya produktif.

√√ Jamaah melahirkan persaudaraan sosial.

√√ Sujud menumbuhkan kerendahan hati pemimpin.

Masyarakat yang menjaga shalatnya sejatinya sedang membangun ekosistem kejujuran, amanah, dan tanggung jawab—nilai inti kepemimpinan publik.

 

Pelajaran Kepemimpinan dari Isra Mi’raj

Dari peristiwa agung ini, lahir beberapa prinsip:

1.Kepemimpinan berbasis spiritualitas – kekuatan pemimpin lahir dari kedekatan dengan Allah.

2.Empati struktural – aturan harus mempertimbangkan kemampuan umat.

3.Keberanian visioner – menembus batas kemustahilan.

4.Akuntabilitas akhirat – setiap kebijakan akan dihisab.

 

Penutup

Isra Mi’raj bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah peta jalan peradaban: menghubungkan langit dan bumi, iman dan ilmu, spiritualitas dan teknologi. Shalat yang dibawa dari perjalanan itu adalah hadiah terbesar bagi umat—tali langsung kepada Allah sekaligus sistem pembentuk manusia unggul.

Maka di bulan Rajab ini, mari memaknai kembali shalat bukan sebagai beban, tetapi sebagai privilege ilahiah; bukan sekadar kewajiban, tetapi teknologi langit untuk membangun manusia dan kepemimpinan yang beradab.

Allahu a‘lam.

 

Penulis : Achmad Haromian., M.I.Kom

Dosen  FEB UMT

Artikulli paraprakSoal UMK 2026 Kota Tangerang, Mustofa Minta Perusahaan Tak Main-main
Artikulli tjetërNelayan Asal Tirtayasa Ditemukan Meninggal Setelah Jatuh ke Laut