Dikepung Beton, Sawah Tangerang Tetap Menghasilkan

KOTA TANGERANG – Pesatnya pembangunan Kota Tangerang ternyata belum sepenuhnya menggeser aktivitas pertanian. Di tengah kawasan perkotaan yang terus berkembang, puluhan hektare sawah masih produktif dan menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah.

Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tangerang mencatat, sebanyak tujuh kelompok tani masih mengelola lahan persawahan seluas 98 hektare. Sepanjang 2025, lahan tersebut menghasilkan 1.692 ton gabah kering panen (GKP), atau setara sekitar 846 ton beras.

Kepala DKP Kota Tangerang, Muhdorun, mengatakan aktivitas pertanian masih berlangsung di sejumlah wilayah, salah satunya kawasan Neglasari.

“Salah satu lokasi pertanian adalah lahan Kelompok Tani Tunas Jaya di Jalan Perimeter Utara Bandara, Kelurahan Selapajang Jaya, Kecamatan Neglasari. Selain itu, Kelompok Tani Harapan Jaya di Kelurahan Karang Sari, Kecamatan Neglasari, juga menjadi bagian dari aktivitas pertanian yang masih berjalan di Kota Tangerang,” papar Muhdorun, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, keterbatasan lahan di wilayah metropolitan menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan produksi pangan. Karena itu, Pemkot Tangerang terus berupaya mengoptimalkan sawah yang masih tersedia.

“Pemkot akan terus berkomitmen untuk mewujudkan swasembada pangan khususnya beras di tengah keterbatasan lahan di Kota Tangerang yang merupakan Kota Metropolitan,” tegasnya.

Salah satu langkah yang didorong yakni peningkatan intensitas tanam dengan target panen hingga tiga kali dalam setahun. Upaya tersebut diharapkan mampu mendongkrak hasil produksi tanpa harus menambah luas lahan.

Selain optimalisasi masa tanam, dukungan sarana pertanian juga menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah agar aktivitas kelompok tani tetap berjalan.

Keberadaan 98 hektare sawah tersebut menjadi potensi pangan lokal yang perlu dijaga. Di tengah semakin terbatasnya ruang pertanian, produktivitas lahan dan keberlanjutan usaha tani menjadi kunci agar sektor pertanian tetap memiliki tempat dalam perkembangan Kota Tangerang. (red)

Artikulli paraprakTangerang Bergerak! Budaya Bersih Dimulai dari Rumah
Artikulli tjetërRatusan Sekolah Tangsel Vakum Adiwiyata, Apa Kendalanya?