
JAKARTA – Pasar saham Indonesia kembali menutup perdagangan dengan wajah muram. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu keluar dari tekanan setelah kembali tergelincir pada perdagangan Jumat (30/10/2026), sekaligus mengakhiri Oktober dengan performa yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 41,01 poin atau 0,80 persen ke level 5.057,05. Penurunan ini melanjutkan keterpurukan sehari sebelumnya, Kamis (29/10/2026), ketika indeks terjun 3,49 persen dan berakhir di posisi 5.098,06.
Tekanan terhadap pasar bahkan sempat menyeret IHSG menembus batas psikologis 5.000, dengan level terendah perdagangan menyentuh 4.979,34. Meski berhasil kembali ke atas 5.000 menjelang penutupan, pergerakan tersebut belum cukup menghapus kekhawatiran terhadap keberlanjutan pelemahan indeks.
Kondisi pasar terlihat dari banyaknya saham yang berakhir di zona merah. Berdasarkan data RTI Business yang dilaporkan Katadata, sebanyak 523 saham melemah, 187 saham menguat, sementara 81 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Pelemahan juga merambah hampir seluruh sektor perdagangan. Dari 11 indeks sektoral, sembilan sektor mengalami penurunan, dengan sektor transportasi dan logistik mencatat koreksi terdalam sebesar 3,13 persen.
Sektor barang baku menyusul dengan pelemahan 2,84 persen, sedangkan sektor infrastruktur turun 1,96 persen. Di tengah tekanan tersebut, sektor kesehatan masih mampu menguat 0,76 persen dan sektor keuangan naik sekitar 0,16 persen.
Pasar Saham Asia Ikut Tertekan
Kondisi bursa Indonesia berlangsung ketika sejumlah pasar saham utama Asia juga menghadapi tekanan.
Indeks Nikkei Jepang melemah 2,12 persen, Shanghai Composite turun 1,44 persen, dan Straits Times Singapura terkoreksi 0,36 persen. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong berhasil bergerak positif dengan kenaikan 1,46 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan bursa tidak hanya terjadi di Indonesia, meskipun besarnya tekanan pada masing-masing pasar berbeda.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam analisis yang dikutip ANTARA, menyoroti pergerakan IHSG yang sempat jatuh di bawah 5.000 sebelum kembali menguat menjelang penutupan.
“Indeks (IHSG) sempat melemah hingga level 4.979, sebelum akhirnya berbalik ditutup di atas level psikologis 5.000,” ujar Ratna.
IHSG Pekan Depan Masih Dibayangi Ketidakpastian
Memasuki perdagangan awal November, perhatian investor diperkirakan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi penting, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari Amerika Serikat, pelaku pasar akan mencermati pemilihan umum paruh waktu pada 3 November 2026. Sementara dari dalam negeri, investor menantikan rilis data inflasi, aktivitas manufaktur, neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi kuartal III, hingga cadangan devisa.
Berbagai indikator tersebut berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar, terutama ketika investor masih mencari kepastian mengenai prospek ekonomi dan kondisi investasi.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji area 4.900 hingga 5.000. Apabila indeks mampu mempertahankan posisi di atas 5.000, pergerakan mendatar dalam rentang 5.000–5.200 masih terbuka pada pekan berikutnya.
Namun, jika tekanan jual kembali meningkat dan batas psikologis tersebut gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan tetap perlu diwaspadai.
Penutupan perdagangan Oktober menjadi pengingat bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan untuk menemukan momentum pemulihan.
Kini, perhatian pelaku pasar bukan hanya tertuju pada seberapa jauh IHSG berpotensi melemah, tetapi juga pada kemampuan pasar membangun kembali kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. (red)





