ilustrasi

JAKARTA – Euforia penguatan bursa saham pada pekan lalu tak bertahan lama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah tekanan jual menyeret seluruh sektor ke zona merah.

IHSG ditutup melemah 66,17 poin atau 1,22 persen ke level 5.373,09. Koreksi tersebut membuat indeks kembali meninggalkan level psikologis 5.400, sekaligus menjadi ujian baru bagi investor yang berharap reli pekan lalu berlanjut.

Mengacu pada data perdagangan yang dilaporkan IDXChannel, sebanyak 542 saham melemah, 174 saham menguat, dan 247 saham bergerak stagnan. Volume transaksi mencapai 32,79 miliar saham dengan nilai sekitar Rp14,74 triliun.

Tekanan terjadi secara merata di pasar. Sektor infrastruktur mencatat penurunan terdalam sebesar 2,47 persen, disusul energi yang melemah 2,36 persen dan teknologi turun 2,06 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok industri.

Pelemahan juga melanda sektor bahan baku, industri, transportasi, barang konsumen, kesehatan, properti, hingga keuangan. Ketika hampir seluruh sektor bergerak turun, investor perlu lebih cermat memilah saham yang terkoreksi akibat sentimen pasar dan emiten yang menghadapi persoalan fundamental.

Saham Hijau Masih Ada, tetapi Tidak Banyak

Di tengah dominasi warna merah, sejumlah saham masih mampu mencatatkan kenaikan signifikan. Quantum Clovera Investama (KREN) menguat 26,67 persen ke Rp19 per saham, sedangkan Andira Agro (ANDI) naik 25 persen ke Rp35.

Premier ETF SMinfra18 (XISI) juga mencatat penguatan sebesar 20,07 persen ke Rp329. Namun, kenaikan saham-saham tersebut tidak cukup untuk membendung tekanan pasar secara keseluruhan.

Sebaliknya, Platinum Wahab Nusantara (TGUK) turun 10 persen ke Rp81 per saham. Graha Prima Mentari (GRPM) terkoreksi 9,30 persen ke Rp117, sedangkan Solusi Environment Asia (SOFA) melemah 8,72 persen ke Rp178.

Investor Perlu Menahan Diri

Koreksi IHSG kali ini menjadi pengingat bahwa pemulihan indeks dalam beberapa hari tidak selalu berarti tekanan pasar telah berakhir. Setelah penguatan pada pekan sebelumnya, investor kembali menghadapi kondisi ketika tekanan jual meluas ke berbagai sektor.

Bagi investor ritel, situasi tersebut perlu disikapi dengan disiplin. Keputusan membeli saham sebaiknya tidak hanya didasarkan pada penurunan harga, tetapi juga mempertimbangkan kinerja perusahaan, valuasi, likuiditas, dan tujuan investasi.

Saham yang turun belum tentu menjadi peluang, sebagaimana saham yang masih bertahan di zona hijau belum tentu aman dari koreksi berikutnya.

Pergerakan perdagangan selanjutnya akan menjadi perhatian untuk melihat apakah IHSG mampu kembali bertahan dan merebut level 5.400. Untuk sementara, investor perlu menjaga modal, menghindari keputusan emosional, dan menunggu sinyal pasar yang lebih jelas sebelum menentukan langkah berikutnya. (red)

Artikulli paraprakTangsel Siapkan Akses Digital untuk PORPROV 2026
Artikulli tjetërTangsel Tak Punya Sawah, Tandon Air Pun Diuji Jadi Lahan Padi