
Hati Tenang Ketika Dekat dengan Orang Miskin
Pernahkah kita merasa hidup serba kurang, padahal begitu banyak nikmat telah Allah berikan? Sering kali, bukan karena nikmat itu sedikit, melainkan karena kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.
Ada orang yang memiliki banyak harta, tetapi hatinya tetap merasa kurang.
Ia terus melihat apa yang dimiliki orang lain. Ketika tetangganya membeli mobil baru, ia ingin membeli mobil yang lebih bagus. Ketika temannya memiliki rumah yang lebih besar, ia ingin memiliki rumah yang lebih megah.
Begitulah manusia. Jika pandangan selalu diarahkan kepada orang yang berada di atas, hati mudah merasa kekurangan.
Kekayaan yang seharusnya mendatangkan rasa syukur justru dapat berubah menjadi perlombaan. Orang saling menunjukkan keberhasilan. Orang saling membandingkan kepemilikan. Tanpa disadari, hati kehilangan ketenangan.
Karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat indah kepada Abu Dzar r.a.
“Cintailah orang-orang miskin dan duduklah bersama mereka.”
Rasulullah ﷺ juga berpesan agar seseorang melihat orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia dan tidak selalu melihat orang yang berada di atasnya.
Pesan tersebut mengajarkan manusia untuk melihat nikmat yang sudah Allah berikan.
Ketika kita duduk bersama orang yang hidup sederhana, kita dapat melihat perjuangan mereka. Kita dapat merasakan kesabaran mereka. Kita juga dapat menyadari bahwa banyak nikmat yang selama ini kita anggap biasa ternyata sangat berharga.
Segelas air minum, makanan yang tersedia, rumah yang nyaman, kesehatan, keluarga, dan kesempatan beribadah adalah nikmat besar yang sering kita lupakan.
Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk hanya memikirkan dirinya sendiri.
Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia agar memperhatikan orang miskin dan anak yatim.
Bahkan, memberi makan orang miskin menjadi salah satu bentuk kepedulian yang sangat ditekankan dalam Islam.
Allah berfirman:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)
Ketika seseorang terbiasa berbagi, hatinya akan belajar bersyukur.
Ketika seseorang dekat dengan orang yang membutuhkan, hatinya akan belajar peduli.
Ketika seseorang memberi makan orang miskin, ia tidak hanya mengisi perut orang lain. Ia juga sedang membersihkan hatinya dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan.
Karena itu, jangan hanya mencari tempat berkumpul yang membuat kita merasa hebat.
Sesekali, duduklah bersama orang yang sederhana.
Datanglah kepada mereka tanpa membawa kesombongan. Dengarkan cerita mereka. Bantu kebutuhan mereka. Berikan makanan kepada mereka. Dan rasakan bagaimana hati kita perlahan belajar bersyukur.
Sebab, kebahagiaan tidak selalu lahir dari bertambahnya harta.
Kadang-kadang, ketenangan justru hadir ketika kita menyadari bahwa apa yang sudah kita miliki ternyata jauh lebih banyak daripada yang kita syukuri selama ini.
Kisah Hikmah Jumat pekan ini mengingatkan kita:
Jangan selalu melihat ke atas hingga lupa bersyukur. Sesekali lihatlah ke bawah agar hati belajar merasa cukup, lalu ulurkan tangan untuk membantu.
Semoga Allah menjadikan kita orang yang kaya hati, gemar bersyukur, mencintai orang-orang miskin, dan ringan tangan membantu mereka.
Wallahu a’lam.

Oleh: Achmad Haromain





