Asing Masih Jualan, IHSG Tersungkur ke 6.031

JAKARTA – Bursa saham Indonesia kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,88 persen atau 115,44 poin ke level 6.031,28.

Pelemahan berlangsung hampir sepanjang sesi perdagangan. IHSG sempat bergerak ke level tertinggi 6.179,09, namun tekanan jual semakin kuat hingga indeks akhirnya ditutup tepat di level terendah hariannya, yakni 6.031,28.

Tekanan pasar terlihat dari dominasi saham yang melemah. Data perdagangan menunjukkan 497 saham terkoreksi, sementara hanya 171 saham menguat dan 119 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp12,72 triliun dengan frekuensi perdagangan sekitar 1,95 juta kali.

Sembilan dari 11 sektor saham berakhir di zona merah. Sektor industri menjadi yang paling dalam terkoreksi dengan penurunan 2,86 persen, disusul energi yang melemah 2,77 persen dan infrastruktur turun 2,54 persen. Di tengah tekanan tersebut, sektor kesehatan masih mampu tumbuh 0,70 persen dan transportasi-logistik naik 0,61 persen.

Investor asing juga masih menjadi perhatian. Sehari sebelumnya, asing mencatat net sell Rp871,36 miliar. Tekanan jual terbesar tercatat pada BBCA sekitar Rp299,69 miliar, sementara BBRI justru menjadi salah satu saham yang dibeli asing dengan net buy sekitar Rp129,58 miliar.

Kondisi tersebut membuat pergerakan saham berkapitalisasi besar ikut menjadi sorotan. Sebelumnya, pada sesi pertama Kamis, asing masih mencatat net sell Rp194,24 miliar, dengan BMRI, BUMI dan ANTM termasuk saham yang paling banyak dilepas.

Dari sisi teknikal, tekanan hari ini membuat posisi IHSG semakin dekat dengan level psikologis 6.000. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana sebelumnya memperkirakan area support IHSG berada di 6.091 dan 5.973, sedangkan resistance berada di 6.297 dan 6.376. Dengan penutupan di 6.031,28, indeks kini sudah berada di bawah support pertama tersebut.

Bagi investor ritel, kondisi seperti ini menjadi pengingat bahwa pasar belum benar-benar aman dari tekanan. Penurunan indeks yang disertai dominasi saham merah membuat strategi mengejar harga justru perlu lebih hati-hati. Saham yang fundamentalnya kuat tetap menarik untuk dipantau, tetapi keputusan masuk sebaiknya mempertimbangkan harga, tren pasar dan kemampuan menahan risiko.

Perdagangan berikutnya menjadi penting. Jika IHSG mampu bertahan di atas area 6.000 dan kembali mendapatkan tekanan beli, peluang rebound masih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut dan indeks menembus area 5.973, pasar berpotensi kembali menghadapi tekanan yang lebih besar. (Red)

Artikulli paraprakRuang Digital Tangsel Dibidik Jadi Ladang Karya Generasi Muda
Artikulli tjetërPunya Harta Banyak, Kok Hati Masih Merasa Miskin?