Bursa Kembali Berdarah, IHSG Nyaris Tinggalkan 6.000

JAKARTA – Bursa saham Indonesia mengawali Oktober 2026 dengan tekanan cukup kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di bawah tekanan jual hingga sempat menembus level psikologis 6.000 sebelum akhirnya ditutup sedikit di atas level tersebut pada perdagangan Kamis (1/10/2026).

IHSG berakhir di posisi 6.009,50, turun 61,64 poin atau 1,02 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.071,14. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 5.973 hingga 6.095 setelah dibuka di level 6.062.

Tekanan terlihat cukup luas di pasar. Data perdagangan menunjukkan 470 saham melemah, 218 saham menguat dan 275 saham tidak mengalami perubahan. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp10,59 triliun dengan volume perdagangan 31,33 miliar saham dan frekuensi mencapai sekitar 1,56 juta transaksi. Kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp10.599 triliun.

Dari 11 indeks sektoral, sebanyak 10 sektor berakhir di zona merah. Sektor teknologi menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 3,93 persen, disusul transportasi 2,02 persen dan bahan baku 1,99 persen. Sektor industri turun 1,81 persen, properti 1,17 persen dan infrastruktur 0,83 persen. Sementara sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat, naik 0,32 persen.

Pergerakan saham juga berlangsung sangat beragam. MGNA tercatat sebagai salah satu penguat terbesar dengan kenaikan 35 persen menjadi Rp189, disusul AKKU yang naik 32,35 persen ke Rp45 dan CCSI menguat 25 persen ke Rp470. Di sisi lain, SOSS terkoreksi 14,83 persen menjadi Rp1.005, VERN turun 14,81 persen ke Rp184 dan FORU melemah 14,73 persen ke Rp191.

Tekanan terhadap indeks terjadi setelah sehari sebelumnya IHSG juga terkoreksi 0,83 persen. Menjelang perdagangan hari ini, Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memperkirakan area 6.000-6.050 menjadi support, sedangkan level 6.100-6.120 menjadi area resistance.

Pergerakan pasar juga berlangsung bersamaan dengan perubahan sejumlah posisi strategis dalam pemerintahan pada 1 Oktober. Sejumlah analis dan pemberitaan pasar mengaitkan perkembangan tersebut dengan meningkatnya perhatian investor terhadap arah kebijakan ekonomi, meski sentimen pasar juga dipengaruhi faktor eksternal.

Sementara itu, aksi jual asing menjadi salah satu perhatian investor. Pada perdagangan sebelumnya, investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp1,56 triliun, dengan sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BMRI, BBCA, ASII dan BBRI termasuk yang banyak dilepas.

Untuk saham perbankan besar yang selama ini menjadi perhatian pasar, tekanan asing terhadap kelompok big banks memang sudah terlihat dalam beberapa sesi sebelumnya. Data perdagangan pekan lalu menunjukkan BMRI, BBCA dan BBRI termasuk saham yang mendapat tekanan jual asing, sehingga pergerakannya masih menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati ketika IHSG berada di sekitar level 6.000.

Selain sentimen domestik, investor juga mencermati perkembangan ekonomi global. Riset pasar sebelumnya menyoroti data inflasi Amerika Serikat, imbal hasil obligasi dan arah kebijakan suku bunga sebagai faktor eksternal yang masih dapat memengaruhi arus dana ke pasar saham.

Dengan IHSG kembali mendekati bahkan sempat berada di bawah 6.000, perdagangan berikutnya menjadi penting untuk melihat apakah indeks mampu bertahan di sekitar level psikologis tersebut. Bagi investor, pergerakan indeks perlu dibaca bersama kondisi masing-masing sektor dan fundamental emiten, bukan hanya berdasarkan warna merah atau hijau IHSG dalam satu hari perdagangan. (red)

Artikulli paraprak1 Oktober Bukan Sekadar Upacara, Ada Luka yang Harus Diingat
Artikulli tjetërKita Sibuk Menyiapkan Hidup Enak, Lupa Menyiapkan Mati Enak