
Hampir semua orang ingin hidup enak. Tetapi tidak semua orang mau memikirkan bagaimana menghadapi kematian dengan baik.
Setiap hari, manusia menyiapkan berbagai kebutuhan untuk masa depan. Orang tua menabung untuk pendidikan anak. Karyawan menyiapkan dana pensiun. Pengusaha mengembangkan usaha. Keluarga membeli rumah dan kendaraan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman.
Semua itu merupakan ikhtiar yang baik.
Namun, ada satu masa depan yang sering luput dari perhatian. Kita mempersiapkan masa depan dunia dengan begitu serius, tetapi sering lupa mempersiapkan masa depan setelah kematian.
Padahal, kematian merupakan kepastian.
Allah SWT berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan kapan kematian akan datang. Usia muda tidak menjadi jaminan. Kesehatan tidak menjadi jaminan. Kekayaan juga tidak menjadi jaminan.
Kematian dapat datang ketika seseorang sedang menyusun rencana masa depan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Apa yang sudah kita siapkan untuk hidup?”
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Apa yang sudah kita siapkan untuk mati?”
Jangan Hanya Menyiapkan Warisan
Kita sering memikirkan apa yang akan kita tinggalkan untuk keluarga.
Kita membeli rumah agar anak memiliki tempat tinggal. Kita menabung agar anak dapat melanjutkan pendidikan. Kita membangun usaha agar keluarga tetap memiliki penghasilan.
Semua itu menunjukkan rasa cinta dan tanggung jawab.
Tetapi, apakah kita juga sudah menyiapkan sesuatu yang dapat menemani kita setelah meninggalkan dunia?
Harta akan berpindah tangan. Rumah akan ditempati orang lain. Kendaraan akan menjadi milik orang lain. Jabatan akan digantikan. Bahkan nama kita perlahan dapat dilupakan manusia.
Namun, amal akan menjadi bekal bagi kehidupan berikutnya.
Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)
Hadis tersebut mengingatkan kita bahwa manusia perlu meninggalkan amal yang terus memberikan manfaat.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Berapa banyak harta yang akan saya tinggalkan?”
Tanyakan juga:
“Berapa banyak kebaikan yang akan tetap mengalir setelah saya meninggal?”
Mati Tidak Bisa Dijadwalkan
Manusia dapat merencanakan banyak hal.
Kita dapat menentukan kapan membeli rumah. Kita dapat menentukan kapan membuka usaha. Kita dapat merencanakan pendidikan anak. Kita bahkan dapat merencanakan perjalanan hingga bertahun-tahun ke depan.
Tetapi manusia tidak dapat menentukan tanggal kematiannya sendiri.
Allah SWT berfirman:
“Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat meminta percepatan.” (QS. Al-A’raf: 34)
Ayat tersebut mengingatkan manusia tentang keterbatasan hidup.
Karena itu, jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk memperbaiki ibadah. Jangan menunggu memiliki banyak harta untuk bersedekah. Jangan menunggu lapang untuk berbuat baik.
Kebaikan dapat kita mulai hari ini.
Kita dapat memperbaiki salat. Kita dapat meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Kita dapat mengembalikan hak orang lain. Kita dapat membantu tetangga. Kita dapat menyantuni orang yang membutuhkan.
Kita dapat memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Kita juga dapat menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain.
Semua itu merupakan bagian dari persiapan menuju kehidupan yang lebih panjang.
Hidup Enak Boleh, Mati Baik Harus Dipersiapkan
Islam tidak melarang manusia menikmati kehidupan dunia.
Kita boleh memiliki rumah yang nyaman. Kita boleh memiliki kendaraan yang baik. Kita boleh mengembangkan usaha. Kita boleh menikmati rezeki yang Allah berikan.
Namun, kita tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir.
Allah mengingatkan:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini memberikan keseimbangan.
Kita bekerja untuk kehidupan dunia. Kita juga mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Kita membangun rumah untuk keluarga. Kita juga membangun amal untuk kehidupan setelah kematian.
Kita menyiapkan masa depan anak. Kita juga menyiapkan masa depan diri sendiri.
Sebab, ada satu perjalanan yang pasti kita tempuh seorang diri.
Sudah Siapkah Kita?
Suatu hari nanti, semua rencana dunia akan berhenti.
Telepon akan berhenti berdering untuk kita. Pekerjaan akan dilanjutkan orang lain. Rumah akan tetap berdiri. Kendaraan akan tetap berjalan. Rekening akan tetap tercatat.
Tetapi kita sudah tidak lagi berada di dalamnya.
Pada saat itu, yang kita perlukan bukan lagi jabatan, harta, atau popularitas.
Kita membutuhkan amal.
Maka, hidup enak boleh kita persiapkan. Masa depan keluarga boleh kita pikirkan. Harta boleh kita kumpulkan dengan cara yang halal.
Tetapi jangan lupa mempersiapkan mati yang baik.
Sebab, kita tidak tahu kapan Allah memanggil kita.
Dan ketika panggilan itu datang, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali dan memperbaiki apa yang pernah kita abaikan.
Mari kita nikmati hidup dengan rasa syukur, tetapi jangan sampai kita lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal.
Karena pada akhirnya, bukan pertanyaan “Seberapa enak hidup yang pernah kita jalani?” yang paling penting.
Tetapi:
“Sudah cukupkah bekal yang kita bawa ketika menghadap Allah?”

Oleh: Achmad Haromain





