Tangsel Expo Jadi Panggung UMKM Lokal Menjaring Pasar Baru

TANGSEL – Produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Kota Tangerang Selatan mendapat kesempatan memperluas pasar melalui Tangsel Expo 2026. Pameran yang berlangsung di Plaza Rakyat, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, itu tidak hanya menyasar masyarakat lokal, tetapi juga tamu dari berbagai daerah.

Sejak hari pertama, Senin (21/9/2026), antusiasme pengunjung terlihat dari transaksi di sejumlah stan. Para kepala daerah dan tamu undangan yang hadir dalam agenda kerja sama antardaerah turut menyempatkan diri membeli produk UMKM yang dipamerkan.

Sebanyak 30 booth disiapkan selama dua hari pelaksanaan. Produk yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari makanan dan minuman, fesyen, kerajinan tangan, craft, hingga hasil ekonomi kreatif lainnya.

Pejabat Fungsional Dinas Koperasi dan UMKM Tangsel, Aminudin, mengatakan peserta pameran berasal dari berbagai kelompok usaha dan pelaku UMKM di tujuh kecamatan. Produk yang ditampilkan pun diupayakan tidak seragam agar pengunjung dapat menemukan beragam pilihan khas Tangsel.

“Kalau bisa produknya jangan sama. Walaupun memang kayak craft, semua ada craft tapi beda-beda jenisnya. Makanan walaupun kerupuk, kerupuknya beda-beda,” kata Aminudin.

Menurutnya, respons pengunjung menunjukkan potensi pasar UMKM yang cukup besar. Dari sekitar 144 ribu pelaku UMKM yang terdata di Tangsel, sektor kuliner menjadi salah satu bidang yang banyak berkembang.

Antusiasme pembeli bahkan terlihat pada produk kerupuk asal Kecamatan Setu. Aminudin menyebut penjualan kerupuk tersebut mencapai sekitar Rp3 juta dalam satu hari.

“Kayak kerupuk aja nih produk asal Setu itu ludes sampai Rp3 juta. Itu kerupuk doang,” ujarnya.

Selain kuliner, produk fesyen dan kerajinan juga mendapat perhatian. Pengurus Dekranasda Tangsel, Brian Hezron, mengatakan sembilan UMKM binaan dan mitra Dekranasda ikut menampilkan produk unggulan, termasuk Ageman, Batik Harni, Rumah Batik Setu, The Moms, Primadona Craft, Li-Uli, NAA, Ilalang dan Danum Macrame.

“Yang ini tenun sama Batik Harni ini. Itu tadi banyak yang milih,” ujar Brian.

Ia menjelaskan, produk yang ditampilkan telah melalui proses kurasi dengan mempertimbangkan kualitas dan keunggulannya. Transaksi di booth Dekranasda pada hari pertama berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta, bahkan ada pembeli yang menghabiskan sekitar Rp5 juta.

Sementara itu, Ketua DWP Tangsel Monalisa Bambang Noertjahjo mengatakan keikutsertaan Dharma Wanita Persatuan dalam Tangsel Expo bertujuan memberi ruang promosi bagi UMKM lokal agar lebih dikenal masyarakat luas. Produk yang dijual meliputi makanan, minuman, fesyen dan kerajinan, dengan harga mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

“Jadi, salah satu tujuan kami mengikuti Tangsel Expo 2026 ini memang untuk memberikan ruang dan kesempatan kepada UMKM lokal agar produknya semakin dikenal oleh masyarakat luas,” kata Monalisa.

Booth DWP juga menghadirkan program kopi gratis bagi 20 pembeli pertama serta suvenir untuk setiap pembeli tanpa minimum transaksi. Omzet penjualan pada hari pertama diperkirakan mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta.

Monalisa berharap pameran tersebut dapat membuka akses pasar baru sekaligus memberi kesempatan bagi pelaku UMKM berinteraksi langsung dengan konsumen. Masukan dari pembeli dinilai penting untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas dan mengembangkan produk mereka.

Kehadiran tamu dari luar daerah, termasuk kepala daerah yang mengikuti agenda penandatanganan kerja sama antardaerah, menjadi peluang tambahan bagi UMKM Tangsel untuk memperkenalkan produknya. Melalui Tangsel Expo 2026, produk lokal diharapkan semakin dikenal dan memiliki kesempatan menjangkau konsumen yang lebih luas. (red)

Artikulli paraprak89 Karya Bertarung, Inilah Pemenang Logo HUT ke-394 Tangerang
Artikulli tjetërBursa Memerah, IHSG Tertekan Jelang Keputusan BI