
KOTA TANGERANG – Sebuah masjid tidak hanya hidup dari ramainya jamaah, tetapi juga dari kemampuan menyiapkan generasi yang kelak meneruskan aktivitas dakwah di dalamnya. Semangat itulah yang terasa dalam Pekan Maulid Masjid At-Tasyri’, Koang Jaya, Karawaci, Kota Tangerang, yang memadukan tradisi keagamaan, kreativitas anak muda, serta pembinaan generasi penerus.
Rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Remaja Masjid At-Tasyri’ (Rismat) tersebut berlangsung selama sepekan. Berbagai kegiatan dirancang bukan hanya untuk memeriahkan peringatan kelahiran Rasulullah, tetapi juga memberikan ruang kepada anak-anak dan remaja untuk belajar tampil, berorganisasi, berdakwah, dan terlibat langsung dalam kehidupan masjid.
Salah satu agenda yang menyasar generasi usia sekolah adalah Musabaqah Hifzil Qur’an bagi anak-anak hingga usia 12 tahun. Kegiatan itu dilengkapi dengan Musabaqah Azan dan Musabaqah Da’i Cilik. Panggung perlombaan pun berubah menjadi ruang belajar bagi peserta untuk meningkatkan keberanian sekaligus memperkuat kemampuan keagamaan.
Ketua Pembina DKM At-Tasyri’, Ustadz H. Sahroni, mengatakan rangkaian Pekan Maulid memiliki makna lebih luas daripada sekadar agenda tahunan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana membangun kecintaan kepada Rasulullah sekaligus mengenalkan kehidupan masjid kepada generasi muda sejak dini.
Semangat tersebut semakin terlihat melalui Musabaqah Qosidah tingkat Kota Tangerang. Lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW menghadirkan suasana religius yang tetap akrab dengan dunia anak muda. Seni islami tersebut sekaligus menjadi media untuk menyampaikan pesan keagamaan dengan cara yang dekat dengan masyarakat.

Di tengah rangkaian acara yang penuh aktivitas, ada satu tradisi sederhana yang justru memiliki tempat khusus di hati jamaah, yakni bongsang atau nasi berkat. Setelah prosesi nasaran dan pembacaan Barzanji, nasi berkat dibagikan kepada jamaah. Bagi warga sekitar, bongsang bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari memori kolektif yang terus diwariskan dalam setiap perayaan Maulid.
Momen pembagian tersebut bahkan kerap menghadirkan suasana riang. Jamaah berusaha mendapatkan bongsang yang telah disiapkan, sementara anak-anak ikut merasakan kegembiraan dalam tradisi yang telah melekat dengan lingkungan Masjid At-Tasyri’. Sebungkus nasi akhirnya menjadi simbol sederhana tentang berbagi dan kebersamaan.
Puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dijadwalkan berlangsung 26 Agustus 2026 dengan menghadirkan Guru Besar Cilongok, KH. Abuya Thohawi Romli, sebagai pengisi tausiyah. Kehadiran ulama tersebut diharapkan memperkuat pesan tentang pentingnya mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi pengurus masjid, keterlibatan anak-anak dan remaja dalam Pekan Maulid merupakan investasi jangka panjang. Mereka yang hari ini menjadi peserta musabaqah, pengisi acara maupun panitia Rismat, diharapkan kelak mengambil peran lebih besar dalam menghidupkan kegiatan keagamaan di lingkungan Masjid At-Tasyri’.
Karena itu, keberlanjutan tradisi menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Maulid tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi momentum untuk membangun estafet dakwah. Dari hafalan Al-Qur’an, azan, dakwah, qosidah, pembacaan Barzanji hingga bongsang, setiap kegiatan memiliki ruang untuk mempertemukan nilai agama dengan kehidupan sosial.
Pada akhirnya, Pekan Maulid At-Tasyri’ bukan hanya tentang bagaimana warga memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, melainkan bagaimana kecintaan kepada Rasulullah diterjemahkan menjadi pembentukan karakter dan keterlibatan generasi muda. Anak-anak yang hari ini belajar di panggung masjid, bisa jadi kelak menjadi penggerak yang menjaga tradisi dan dakwah tetap hidup. (yong)





