Sumur Mengering, Warga Keranggan Bertahan dari Kiriman Air BPBD, Sumur Bor Jadi Harapan.

TANGSEL – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Sedikitnya 95 kepala keluarga (KK) yang tersebar di empat RT di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, mengalami krisis air bersih setelah sumur-sumur warga mengering. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan menyalurkan 13.000 liter air bersih ke kawasan terdampak pada Jumat (17/07/2026).

Satgas BPBD Kota Tangerang Selatan, Coky Harianto, menjelaskan distribusi air bersih dilakukan di RT 02 RW 01, RT 04 RW 02, RT 011 RW 04, dan RT 013 RW 05. Bantuan tersebut diprioritaskan bagi warga yang kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan dasar seperti memasak, minum, mencuci, hingga mandi.

“Jumlah kepala keluarga yang terdampak saat ini mencapai 95 KK. Distribusi air bersih kami lakukan setiap hari sesuai kebutuhan di lapangan sejak 8 Juli 2026,” ujar Coky Harianto saat di Kelurahan Keranggan.

Ia menambahkan, penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan surat permohonan dari pengurus RT dan RW yang diteruskan melalui pihak kelurahan. Setelah menerima laporan, BPBD langsung mengerahkan armada tangki air ke lokasi terdampak agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

“Masyarakat yang mengalami kekeringan dapat mengajukan permohonan melalui kelurahan dengan melampirkan jumlah KK terdampak. Begitu surat kami terima, bantuan akan segera kami tindak lanjuti,” jelasnya.

Berdasarkan pemetaan BPBD Tangsel sebelumnya, wilayah Kecamatan Setu memang menjadi salah satu kawasan yang paling rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau. Kondisi geografis dan berkurangnya debit air tanah menyebabkan sejumlah sumur warga mengering lebih cepat dibanding wilayah lain.

Sementara itu, Ketua RW 02 Kampung Koceak, Nasrullah, mengatakan kekeringan mulai dirasakan warga sekitar dua pekan terakhir. Dari tiga RT di wilayahnya, dua RT terdampak cukup parah, terutama RT 04 dan RT 06, dengan kondisi sumur yang sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat.

“Di RT 04 ada sekitar 10 KK yang terdampak. Sedangkan RT 06 kondisinya lebih parah karena karakter tanahnya membuat sumur cepat kering. Ada sumur yang sama sekali tidak mengeluarkan air, ada juga yang harus menunggu beberapa jam hingga air kembali terkumpul,” ungkap Nasrullah.

Menurutnya, bantuan air bersih dari BPBD menjadi penopang utama aktivitas warga sehari-hari. Air tersebut dimanfaatkan untuk memasak, minum, mencuci pakaian, hingga kebutuhan sanitasi rumah tangga. “Alhamdulillah, distribusi air masih terus berjalan sehingga kebutuhan warga tetap bisa terpenuhi,” katanya.

Meski bersyukur atas bantuan yang diberikan, Nasrullah berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan segera merealisasikan pembangunan sumur bor yang telah diusulkan sejak kekeringan melanda kawasan tersebut pada 2023. Menurutnya, penyediaan sumber air permanen menjadi solusi jangka panjang agar warga tidak terus bergantung pada distribusi air tangki setiap musim kemarau. (red)

Artikulli paraprakMalam Penentuan Takhta: Messi Menghadapi Anak-Anak La Masia di Final Piala Dunia 2026
Artikulli tjetërTanpa Gol Pun Messi Menang! Dua Assist ke Final Bikin Mbappé Tergusur dari Singgasana Golden Boot