
TANGSEL – Sistem sudah dipoles, aturan diperjelas, tapi satu persoalan lama belum benar-benar terjawab: kursi sekolah negeri masih jauh dari cukup. Di tengah persiapan SPMB 2026/2027, Pemerintah Kota Tangerang Selatan berhadapan dengan realita klasik—rebutan bangku yang makin ketat dari tahun ke tahun.
Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), pemerintah mengklaim telah menyiapkan sistem yang lebih rapi dan transparan. Namun bagi banyak orang tua, persoalan utamanya bukan lagi teknis pendaftaran, melainkan peluang yang semakin sempit.
Kepala Dindikbud Tangsel, Deden Deni, menyebut berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari penyusunan juknis, penguatan sistem digital, hingga pembukaan kanal pengaduan.
“Semua kami siapkan agar proses berjalan transparan dan adil,” ujarnya, Rabu (29/04/2026).
Namun di lapangan, angka berbicara lain. Pertumbuhan penduduk usia sekolah di Tangsel terus meningkat, sementara daya tampung sekolah negeri belum mampu mengimbangi lonjakan tersebut. Akibatnya, seleksi semakin kompetitif, terutama di jalur domisili yang sering menjadi penentu utama.
Untuk jenjang SMP negeri, kuota jalur domisili hanya 40 persen, sementara afirmasi 30 persen, prestasi akademik 20 persen, dan non-akademik 5 persen. Artinya, tidak semua siswa yang tinggal dekat sekolah otomatis memiliki peluang besar.
“Rumah dekat belum tentu aman. Selisih jarak sedikit saja bisa kalah,” keluh salah satu orang tua di Serpong yang tidak mau disebut namanya.
Di sisi lain, kebijakan baru seperti penggunaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Data Terpadu Sosial Nasional (DTSN) memang ditujukan untuk meningkatkan objektivitas. Namun bagi sebagian masyarakat, aturan ini justru menambah lapisan persaingan baru.
Pemerintah daerah mengakui keterbatasan daya tampung dan tengah mengusulkan penambahan rombongan belajar ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Banten. Meski begitu, solusi ini belum tentu bisa langsung menjawab kebutuhan tahun ini.
“Ini persoalan yang terus kami upayakan. Penambahan kapasitas sedang dalam proses,” kata Deden.
Di tengah sistem yang semakin tertib, tekanan justru bergeser: dari kekhawatiran soal kecurangan menjadi kecemasan soal peluang. Orang tua kini berlomba bukan hanya dengan nilai, tetapi juga jarak, data, dan kuota yang terbatas.
SPMB mungkin semakin transparan. Tapi bagi banyak keluarga di Tangsel, satu kenyataan tetap sulit dihindari—kursi sekolah negeri masih menjadi “barang langka” yang diperebutkan setiap tahun. (red)





