
TANGSEL – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) terus memacu langkah untuk mengurangi risiko banjir yang selama ini kerap menghantui sejumlah wilayah. Berbagai strategi disiapkan hingga 2027, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali air hingga penyelesaian titik-titik banjir yang masih tersisa.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menegaskan, pengendalian banjir menjadi salah satu prioritas utama pembangunan kota. Menurutnya, penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi melalui kombinasi pembangunan infrastruktur, perbaikan sistem drainase, dan penataan kawasan.
“Penanganan banjir ini proses yang bertahap. Kita terus memperkuat infrastruktur pengendali air dan memastikan setiap titik rawan mendapatkan penanganan yang tepat,” ujar Benyamin.
Kepala Dinas Sumber Daya Air Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK) Kota Tangerang Selatan, Robbi Cahyadi, menjelaskan hingga 2025 pemerintah kota telah membangun sedikitnya 23 tandon air yang tersebar di berbagai wilayah seperti Lengkong Karya, Lengkong Wetan, Ciater Raya, hingga Serua. Infrastruktur tersebut berfungsi menampung limpasan air hujan agar tidak langsung membanjiri kawasan permukiman.
“Total sampai 2025 sudah ada 23 tandon yang terbangun di berbagai wilayah. Ini menjadi salah satu cara kita menahan debit air ketika curah hujan tinggi,” jelas Robbi usai menghadiri Forum OPD di Perkantoran Lengkong.
Namun ke depan, pembangunan tandon baru tidak lagi menjadi pilihan utama karena keterbatasan lahan di wilayah perkotaan. Sebagai solusi alternatif, Pemkot Tangsel mulai mengembangkan konsep long storage, yakni saluran air berkapasitas besar yang dibangun di bawah badan jalan untuk menampung dan mengalirkan air dalam volume lebih besar.
“Ke depan kemungkinan sudah tidak ada lagi pembangunan tandon baru karena membutuhkan pembebasan lahan. Sebagai gantinya, kita bangun long storage dengan target sekitar 10 lokasi,” katanya.
Konsep tersebut sebenarnya sudah mulai diterapkan di beberapa kawasan seperti Pakujaya di Serpong Utara serta kawasan BPI di Pamulang. Tahun ini, proyek serupa juga tengah dibangun di Perumahan Pondok Maharta, Pondok Aren yang dikenal sebagai salah satu wilayah rawan banjir.
Selain pembangunan infrastruktur baru, pemerintah kota juga fokus menyelesaikan titik banjir yang masih tersisa. Dari sebelumnya sekitar 40 titik banjir, kini jumlahnya berhasil ditekan menjadi tujuh titik utama, sementara genangan ringan tercatat di sekitar 11 titik dengan ketinggian air rata-rata hanya sekitar 20 sentimeter.
Beberapa wilayah yang masih menjadi perhatian antara lain Pondok Maharta, Kampung Bulak, Pondok Kacang Prima, serta Taman Manggu di Kecamatan Pondok Aren. Penanganan dilakukan melalui pemasangan pompa tambahan, penyelesaian tanggul yang tersisa sekitar 100 meter, hingga peninggian jembatan yang dinilai menghambat aliran air.
Saat ini, total 145 unit pompa air telah dipasang di berbagai titik rawan banjir di Tangsel. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian air, terutama ketika hujan deras datang dalam waktu singkat.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkot Tangsel optimistis persoalan banjir dapat terus ditekan secara bertahap hingga 2027. Pemerintah berharap upaya ini tidak hanya mengurangi genangan, tetapi juga memberi rasa aman bagi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan risiko banjir setiap musim hujan. (red)





