
KAB. SERANG – Kepindahan AKBP Condro Sasongko ke Polda Jawa Barat bukan sekadar mutasi jabatan. Bagi masyarakat Kabupaten Serang, momen itu terasa seperti melepas anggota keluarga sendiri.
Ribuan warga dari berbagai kalangan memadati halaman Mapolres Serang untuk mengantar kepergian pria asal Trenggalek, Jawa Timur tersebut. Suasana haru tak terbendung saat Condro Sasongko berpamitan dari jabatannya sebagai Kapolres Serang.
Tangis, pelukan, dan doa mengiringi langkahnya. Pemandangan itu menjadi cermin kuat betapa sosok Condro Sasongko telah menorehkan ikatan emosional yang dalam dengan masyarakat selama masa kepemimpinannya.
Kesedihan paling kentara terlihat dari para pengemudi ojek online (ojol) yang hadir. Salah seorang ojol dengan rambut mohawk tak kuasa menyembunyikan perasaannya.
“Kenapa sih bapak yang dipanggil ke Jawa Barat, bukan yang lain? Saya sedih, Pak,” ujarnya sambil terisak, dikutip dari akun TikTok Mr. Con, Sabtu (10/1/2026).
Ia menilai Condro Sasongko berhasil membangun sinergitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) bersama komunitas ojol.
“Kan sudah bersatu, Pak, dengan ojol,” katanya sambil menyeka air mata.
Mendengar ungkapan itu, Condro Sasongko merangkul pengemudi ojol tersebut. Ia berusaha tetap tegar di tengah suasana emosional, seraya menjelaskan bahwa kepindahannya merupakan bagian dari dinamika organisasi Polri.
“Kan harus gantian, Pak,” ucapnya singkat.
Tak hanya para ojol, kesedihan juga dirasakan kaum emak-emak. Selama menjabat Kapolres Serang, alumnus Akpol 2005 itu dikenal dekat dengan masyarakat kecil. Ia kerap turun langsung ke lapangan, menyalurkan bantuan sembako, hingga membagikan hasil program ketahanan pangan.
Melalui program Ngariung Iman dan Ngariung Aman, Condro Sasongko membuka ruang dialog dan aspirasi, khususnya bagi kaum ibu.
“Jangan lupain kita, Pak. Selamat jalan, Pak,” ucap mereka sambil menangis.
Suasana haru juga menyelimuti internal Polres Serang. Para perwira dan bintara tampak berusaha tegar, meski tak sedikit yang akhirnya meneteskan air mata.
“Saya tidak sedih, Ndan. Siap,” ujar seorang anggota Provos dengan suara bergetar.
Puncak prosesi pelepasan terjadi saat Condro Sasongko menaiki mobil komando buruh. Kendaraan itu bukan sekadar simbol, melainkan saksi perjuangannya dalam mengawal aspirasi buruh di Kabupaten Serang, termasuk upaya menyelamatkan pekerja dari ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Atas kontribusi tersebut, ribuan buruh turut berkonvoi mengantar Condro Sasongko menuju Polda Jawa Barat. Bagi mereka, kepergian ini bukan hanya perpindahan tugas, melainkan perpisahan dengan sosok Bhayangkara yang dianggap benar-benar hadir dan membela rakyat.





