
TANGSEL – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) memperketat pengawasan harga dan pasokan bahan pokok selama Ramadan 1447 H/2026 untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi. Langkah konkrit ini diambil setelah data terbaru menunjukkan tren kenaikan harga di awal tahun.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika TB Asep Nurdin menegaskan bahwa seluruh unsur Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) berada dalam status siaga.
Pantauan harga dilakukan secara harian di pasar tradisional dan ritel modern sehingga potensi lonjakan tajam akibat kenaikan permintaan di bulan puasa dapat diantisipasi. “Kami ingin stok tetap aman dan harga terkendali sehingga masyarakat tidak kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya,” ujar Asep, Senin (23/02/2026).
Data Bagian Perekonomian dan Pembangunan Tangsel menunjukkan bahwa indeks harga bahan pokok sempat mengalami deflasi di awal tahun sebelum masuk Ramadan. Namun, tren mulai berubah pada pekan pertama Februari dengan terjadinya inflasi 1,27 persen, terutama dipicu kenaikan harga cabai rawit dan beberapa komoditas pangan lain.
Data resmi dari Badan Pusat Statistik Provinsi Banten mencatat inflasi year-on-year 3,48 persen pada Januari 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,16, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang berlanjut di wilayah Banten, terutama pada kelompok makanan, minuman, serta perumahan dan konsumsi rumah tangga yang menjadi kebutuhan pokok keluarga.
Untuk meredam gejolak harga selama puasa, Pemkot Tangsel melalui Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Bazar Ramadan di tujuh kecamatan — Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara, dan Setu. Skema ini memungkinkan warga mendapatkan komoditas pokok dengan harga 15–20 persen lebih murah dibanding pasar reguler, misalnya beras kemasan 5 kg dijual Rp54.000 dari harga pasar sekitar Rp69.000, serta daging sapi Rp110.000 per kilogram dari harga normal sekitar Rp135.000.
“Ini bukan sekadar bazar, tapi aksi nyata pemerintah hadir di tengah masyarakat. Stok tersedia langsung di titik pemukiman warga sehingga tekanan harga bisa terjaga,” tambah Asep.
Tak hanya itu, aspek penegakan hukum turut diperkuat melalui koordinasi Forkopimda, Polres Tangerang Selatan, dan Kejaksaan Negeri. Tim gabungan rutin melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang distributor dan pasar utama seperti Pasar Ciputat dan Pasar Serpong untuk menindak praktik penimbunan atau spekulasi harga yang merugikan masyarakat. “Forkopimda tidak akan segan memberikan tindakan tegas bagi pihak yang sengaja merugikan kepentingan umum,” tegas Asep.
Dengan koordinasi intensif antara TPID, DKP3, dan aparat penegak hukum, Pemkot Tangerang Selatan optimistis stabilitas harga dan pasokan kebutuhan jelang Idulfitri 2026 akan tetap kondusif. (red)





