
KOTA TANGERANG – Ramadan selalu membawa berkah bagi kawasan Pasar Lama. Setiap sore, ribuan warga tumpah ruah memenuhi sentra kuliner legendaris itu untuk ngabuburit dan berburu takjil. Di balik keramaian tersebut, tersimpan perputaran ekonomi yang tidak kecil, sekaligus pekerjaan rumah besar soal penataan kawasan.
Anggota Komisi III DPRD Kota Tangerang, Yeni Kusumaningrum, menilai Pasar Lama bukan sekadar lokasi berburu makanan berbuka, melainkan urat nadi ekonomi rakyat. Ratusan pedagang, termasuk pelaku usaha musiman, menggantungkan harapan pada lonjakan pengunjung selama Ramadan. Namun menurutnya, kenyamanan dan keamanan tidak boleh dikorbankan demi ramainya transaksi.
“Warga datang bukan hanya untuk membeli takjil, tetapi ingin merasa aman dan nyaman. Jika kawasan tertata baik, ekonomi bergerak dan citra kota ikut terangkat,” ujar Yeni, Selasa (24/02/2026).
Ia menegaskan, lonjakan aktivitas ekonomi ini harus dikelola secara profesional oleh PT Tangerang Nusantara Global (TNG) selaku BUMD pengelola. Penataan pedagang, pengelolaan parkir, kebersihan, hingga sistem retribusi yang legal dan transparan menjadi kunci agar potensi pendapatan daerah tidak bocor dan kawasan tetap tertib.
Menurut Yeni, Pasar Lama adalah ikon Kota Tangerang yang memiliki daya tarik sepanjang tahun. Jika tidak diatur dengan baik, kepadatan pedagang dan pengunjung justru bisa menimbulkan kesan kumuh serta memicu gangguan ketertiban. “Ramai itu baik untuk ekonomi, tapi harus tetap tertib. Jangan sampai kenyamanan pengunjung terganggu,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kanal pengaduan publik yang mudah diakses. DPRD, kata dia, tidak mungkin melakukan pengawasan selama 24 jam. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam melaporkan persoalan di lapangan menjadi bagian dari pengawasan bersama demi menjaga marwah kawasan.
Komisi III berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola, pedagang, dan masyarakat dapat menjadikan Pasar Lama sebagai pusat kuliner Ramadan yang bukan hanya ramai transaksi, tetapi juga bersih, aman, dan membanggakan. Sebab, di sanalah denyut ekonomi rakyat berdetak paling terasa setiap bulan suci tiba. (red)





