Modal Besar, Untung Besar? Pedagang Kurban Tangsel Bidik Omzet hingga Ratusan Juta Rupiah

TANGSEL – Puluhan lapak penjualan hewan kurban mulai bermunculan di berbagai sudut Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Di balik deretan sapi, kambing, dan domba yang dipajang di pinggir jalan, tersimpan harapan para pedagang untuk meraih berkah sekaligus omzet ratusan juta rupiah dari momentum tahunan tersebut.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tangerang Selatan, hingga pertengahan Mei 2026 tercatat sedikitnya 53 lapak hewan kurban dengan populasi mencapai 4.889 ekor yang tersebar di tujuh kecamatan. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah mendekati puncak penjualan menjelang Iduladha.

Pemilik lapak kurban di kawasan Pamulang, Rizky Hidayat, mengaku telah menyiapkan puluhan ekor sapi dan ratusan kambing sejak beberapa pekan lalu. Hewan-hewan tersebut didatangkan dari peternak di Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, hingga wilayah Banten untuk memenuhi permintaan masyarakat.

“Biasanya pembeli mulai ramai sekitar satu minggu sebelum Iduladha. Tahun ini kami optimistis penjualan meningkat karena kondisi ekonomi masyarakat mulai membaik. Target omzet kami bisa mencapai Rp500 juta sampai Rp700 juta,” ujarnya.

Menurut Rizky, harga kambing saat ini berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp6 juta per ekor, sedangkan domba dijual mulai Rp3 juta sampai Rp7 juta tergantung ukuran dan jenisnya. Untuk sapi, harga berada di kisaran Rp18 juta hingga Rp40 juta, sementara sapi berbobot jumbo bisa menembus harga di atas Rp100 juta.

Optimisme serupa disampaikan pedagang kurban lainnya di kawasan Serpong. Mulyadi, yang telah berjualan hewan kurban selama lebih dari satu dekade, mengatakan tren pembelian saat ini mulai bergeser. Selain pembeli perorangan, banyak perusahaan, komunitas, dan kelompok warga yang memesan hewan kurban secara kolektif jauh hari sebelum hari raya.

“Kalau sekarang banyak pembelian sistem patungan dari kantor atau komunitas. Mereka biasanya pesan lebih awal supaya bisa memilih hewan yang sesuai kebutuhan,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Pusat Kesehatan Hewan Kota Tangsel, Pipit Surya Yuniar, memastikan seluruh lapak yang beroperasi berada dalam pengawasan pemerintah. Pemeriksaan dilakukan terhadap kondisi kesehatan hewan maupun kelengkapan dokumen asal ternak agar masyarakat merasa aman saat bertransaksi.

“Kami melakukan monitoring bersama dokter hewan dan kader di setiap kelurahan. Hewan yang sehat dan lapak yang sudah diperiksa akan diberikan tanda atau stiker sebagai bukti telah memenuhi persyaratan,” jelas Pipit.

Bagi masyarakat, membeli hewan kurban tidak hanya soal harga, tetapi juga kualitas dan kesehatan ternak. Salah seorang calon pembeli asal Ciputat, Ahmad Fauzi, mengaku lebih memilih membeli di lapak yang telah diperiksa petugas meskipun harga sedikit lebih tinggi. Menurutnya, faktor keamanan dan kelayakan hewan menjadi prioritas utama dalam beribadah kurban.

Dengan meningkatnya permintaan, stok hewan yang mencukupi, serta pengawasan kesehatan yang ketat, para pedagang di Tangerang Selatan berharap momentum Iduladha tahun ini membawa berkah bagi semua pihak. Tidak hanya bagi penjual dan peternak, tetapi juga masyarakat yang ingin menjalankan ibadah kurban dengan aman dan nyaman. (red)

Artikulli paraprakJangan Tergiur Murah! Dokter Hewan Ungkap Tanda Hewan Kurban yang Wajib Dihindari
Artikulli tjetërDiburu Jelang Iduladha, Harga Sapi Jumbo Tembus Ratusan Juta, Kambing Mulai Langka?