
TANGERANG – Piala Dunia 2026 bukan hanya menyajikan persaingan menuju trofi juara dunia. Di balik perebutan tiket semifinal, muncul drama lain yang tak kalah menyita perhatian: perlombaan menuju Golden Boot atau Sepatu Emas. Hingga babak perempat final, tiga nama terbesar sepak bola dunia berdiri sejajar di puncak daftar pencetak gol sementara dengan koleksi tujuh gol masing-masing, yakni Lionel Messi (Argentina), Kylian Mbappé (Prancis), dan Erling Haaland (Norwegia).
Fenomena ini menjadi salah satu yang paling langka dalam sejarah Piala Dunia. Sang juara dunia Lionel Messi, bintang masa kini Kylian Mbappé, serta mesin gol baru Eropa Erling Haaland sama-sama tampil luar biasa sepanjang turnamen. Ketiganya mewakili tiga generasi berbeda yang kini bertemu dalam satu persaingan paling bergengsi bagi para penyerang.
Messi kembali membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tampil menentukan. Kapten Argentina itu mengoleksi tujuh gol melalui kombinasi penyelesaian akhir yang tenang, tendangan bebas akurat, penalti, serta kecerdasannya membaca ruang. Di sisi lain, Mbappé terus mempertontonkan kecepatan eksplosif yang menjadi mimpi buruk pertahanan lawan. Penyerang Prancis tersebut tetap menjadi ancaman utama lewat akselerasi dan penyelesaian klinis di kotak penalti.
Sementara itu, Erling Haaland kembali menunjukkan reputasinya sebagai predator sejati. Penyerang Norwegia itu mengumpulkan tujuh gol melalui dominasi duel udara, kekuatan fisik, serta naluri mencetak gol yang luar biasa.
Menurut regulasi resmi FIFA, jumlah gol memang menjadi indikator utama penentuan Golden Boot. Namun apabila dua atau lebih pemain mengoleksi jumlah gol yang sama, penilaian berlanjut pada jumlah assist. Jika masih identik, FIFA akan menggunakan total menit bermain sebagai penentu, di mana pemain dengan menit bermain lebih sedikit akan menempati posisi lebih tinggi. Sistem tersebut membuat setiap pertandingan tersisa menjadi sangat menentukan bagi Messi, Mbappé dan Halland yang masih berpeluang memperbesar koleksi gol maupun assist.
Pengamat sepak bola internasional Guillem Balagué menyebut persaingan kali ini sebagai salah satu duel individu terbaik dalam sejarah Piala Dunia modern. Menurutnya, dunia sedang menyaksikan tiga tipe penyerang yang sangat berbeda, tetapi sama-sama efektif membawa timnya melangkah jauh. Sementara analis ESPN Mark Ogden menilai perebutan Golden Boot tahun ini mencerminkan perubahan generasi sepak bola dunia, ketika legenda hidup seperti Messi masih mampu berdiri sejajar dengan dua mesin gol terbaik generasi berikutnya.
Di Indonesia, pengamat sepak bola Kesit Budi Handoyo menilai peluang Messi sedikit lebih terbuka karena Argentina masih memiliki potensi memainkan lebih banyak pertandingan apabila berhasil melangkah ke semifinal dan final. Namun ia mengingatkan Mbappé memiliki kemampuan mencetak lebih dari satu gol dalam satu pertandingan, sehingga persaingan dipastikan baru akan berakhir pada laga terakhir turnamen.
Kini seluruh perhatian pencinta sepak bola dunia tak hanya tertuju pada perebutan trofi Jules Rimet, tetapi juga pada siapa yang akan menjadi raja gol Piala Dunia 2026. Apakah Messi mampu menutup karier internasionalnya dengan Golden Boot? Mampukah Mbappé mempertahankan statusnya sebagai mesin gol paling mematikan? Atau justru Haaland menyalip diantara keduanya di akhir turnamen besar ini ? Jawabannya akan ditentukan dalam beberapa pertandingan paling menentukan di panggung sepak bola terbesar dunia. (red)





