Mens Rea Diprotes dan Dilaporkan, Pandji: Inilah Risiko Ditonton Banyak Orang

JAKARTAKomika Pandji Pragiwaksono menyambut respons publik terhadap special show terbarunya di Netflix, Mens Rea, dengan perasaan puas. Meski menuai pujian dan kritik tajam secara bersamaan, Pandji menilai reaksi beragam itu sebagai hal yang wajar bahkan sudah ia perkirakan sejak awal.

“Gue sudah tahu pasti akan ada yang suka dan akan ada yang nggak suka. Itu sangat biasa,” ujar Pandji dalam siaran langsung Instagram-nya seperti dikutip pada Minggu (11/1/2026).

Menurut Pandji, sejak awal Mens Rea memang ditujukan untuk menjangkau audiens seluas mungkin. Ia sadar bahwa semakin banyak orang menonton, semakin besar pula peluang munculnya perbedaan tafsir dan penilaian.

“Karena dari gue bikin Mens Rea, gue bercita-cita supaya sebanyak-banyaknya orang yang nonton Mens Rea,” lanjut Pandji.

Special show yang mulai tayang di Netflix sejak 27 Desember 2025 itu belakangan menjadi sorotan, bahkan disebut-sebut sebagai bumerang bagi Pandji. Namun, komika berusia 46 tahun tersebut menegaskan dirinya sama sekali tidak merasa gentar.

“Tapi gue sama sekali nggak menyesal. Gue bahkan happy, happy banget bahkan, sangat happy. Positifnya jauh lebih besar dari negatifnya,” tutur Pandji.

Kontroversi Mens Rea semakin menguat setelah Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) bersama Aliansi Muda Muhammadiyah melaporkan Pandji ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut dilayangkan pada Rabu (7/1/2026) terkait dugaan pencemaran nama baik atas materi komedi yang dibawakan dalam pertunjukan tersebut.

Pelapor menyerahkan sejumlah barang bukti berupa rekaman dan materi yang disampaikan Pandji melalui salah satu platform digital saat Mens Rea berlangsung. Materi itu dinilai mengandung unsur yang merendahkan serta berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Mens Rea sendiri ditayangkan secara penuh tanpa sensor di Netflix. Dalam special show tersebut, Pandji menjadikan panggung komedi sebagai ruang kritik sosial dan politik dengan gaya observasi yang tajam dan berani.

Ia menyoroti kondisi perpolitikan nasional pasca-Pemilu 2024, menguliti perilaku pejabat publik, hingga menyinggung tokoh-tokoh besar yang selama ini kerap dianggap tabu untuk dibahas secara terbuka. Materi tersebut dinilai sebagian penonton relevan dengan kondisi demokrasi Indonesia, dibalut komedi satire yang tak sekadar mengundang tawa, tetapi juga memancing refleksi.

Berita sebelumyaBanjir Rendam Permukiman dan Kantor Desa Baros, BPBD Turunkan TRC
Berita berikutnyaPemkot Tangsel Targetkan 1 RW 1 Bank Sampah, Gas Berlin Jadi Tolok Ukur