
KAB. TANGERANG – Isu terancam gagal panen pada lahan jagung program ketahanan pangan nasional di Desa Bantar Panjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, ditegaskan tidak sepenuhnya tepat. Berdasarkan hasil pengecekan dan evaluasi langsung oleh Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Indra Waspada, Selasa (30/12/2025) malam, lahan jagung aktif tanam seluas 20 hektare kini mulai memasuki fase panen bertahap.
Dari total lahan aktif tersebut, seluas 1,5 hektare dipastikan siap dipanen pada Januari 2025 mendatang. Adapun keseluruhan kawasan ketahanan pangan di Desa Bantar Panjang memiliki luas kurang lebih 50 hektare, yang dikelola dalam kolaborasi antara Polresta Tangerang, Polda Banten, dan PT MSD Corpora.
Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah mengatakan, pihaknya turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi riil lahan jagung yang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik.
Menurut Kapolres, penanaman jagung dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari skema jangka pendek, menengah, dan panjang. Pola tersebut bertujuan agar panen dapat berlangsung berkelanjutan, bukan dilakukan secara serentak.
“Lahan jagung yang dikelola dalam program ketahanan pangan nasional justru tengah memasuki fase panen. Pada bulan Januari mendatang sekitar 1,5 hektare siap dipanen,” kata Kapolresta Tangerang, Kombes Pol, Indra Waspada dalam keterangannya, Selasa (30/12) malam.
Indra Waspada juga menegaskan, dinamika pertumbuhan tanaman merupakan hal yang lazim dalam aktivitas pertanian. Ia menyebut, peran Polri dalam program ketahanan pangan ini adalah memastikan legalitas lahan serta membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak ketiga yang memiliki kompetensi teknis.
“Untuk teknis pertanian, mulai dari penanaman, pemeliharaan hingga panen, kami bekerja sama dengan PT MSD Corpora sebagai mitra profesional yang ditugaskan Mabes Polri,” jelasnya.
Meski demikian, Kapolresta Tangerang mengapresiasi kepedulian masyarakat yang turut mengawasi jalannya program ketahanan pangan nasional tersebut.
“Polresta Tangerang juga menyampaikan, setiap masukan, kritik, dan saran akan dijadikan bahan evaluasi bersama guna memastikan program ketahanan pangan dapat berjalan lebih baik, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT MSD Corpora, Made Suardika Dwipayana, turut menjelaskan terkait kondisi lahan yang ditumbuhi rumput liar hingga menutupi sebagian tanaman jagung. Menurutnya, keberadaan vegetasi tersebut bukan bentuk pembiaran, melainkan bagian dari strategi pengelolaan tanah.
“Rumput tersebut sengaja dipertahankan untuk menjaga struktur tanah agar tidak mudah tergerus air hujan. Nantinya akan dimanfaatkan sebagai pupuk alami melalui proses dekomposer. Sehingga keberadaan vegetasi liar itu pun tetap memiliki nilai guna,” ujarnya.
Made menegaskan, seluruh proses budidaya jagung telah dirancang secara terencana dan berkelanjutan, mulai dari tahap pembukaan lahan, penanaman bibit pada Oktober, hingga pemeliharaan rutin. Ia juga menyampaikan bahwa jagung merupakan tanaman yang tidak mengenal musim.
“Jagung merupakan tanaman yang tidak mengenal musim. Dengan pola tanam bertahap, panen bisa dilakukan secara berkala. Target ke depan tetap mengacu pada standar nasional, yakni enam hingga tujuh ton per hektare,” ujar Made.
Sebelumnya, beredar informasi yang menyebut lahan jagung di Desa Bantar Panjang terancam gagal panen akibat tanaman yang tidak berkembang dan mengalami pembusukan. Namun hasil pengecekan lapangan menunjukkan bahwa sebagian lahan justru telah memasuki tahap panen awal, sementara area lainnya masih berada dalam siklus tanam bertahap.





