
JAKARTA – Bursa saham Indonesia menutup perdagangan pekan ini dengan kabar positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada Jumat (9/10/2026), setelah sehari sebelumnya tertekan tajam. Penguatan ini memberi sedikit ruang bernapas bagi investor menjelang libur akhir pekan.
IHSG ditutup pada level 6.093,75, menguat 62,47 poin atau 1,04% dibandingkan penutupan Kamis yang berada di posisi 6.031,28. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level terendah 5.995,82 sebelum naik hingga 6.100,57. Data penutupan tersebut dilaporkan Warta Ekonomi.
Perbaikan indeks terlihat dari komposisi saham yang diperdagangkan. Sebanyak 381 saham menguat, sementara 238 saham melemah dan 172 saham lainnya tidak berubah. Total volume perdagangan mencapai 38,38 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp9,94 triliun.
Penguatan pada Jumat menjadi pembalikan setelah IHSG anjlok 1,88% pada Kamis. Saat itu, sebanyak 518 saham melemah dan hanya 187 saham menguat. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan jual sebelumnya cukup luas, sehingga kenaikan pada akhir pekan perlu dicermati sebagai pemulihan yang masih membutuhkan konfirmasi.
Di pasar saham, investor juga perlu memperhatikan pergerakan sektor perbankan, termasuk saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Ketiganya layak masuk daftar pantauan, tetapi pergerakan IHSG yang positif tidak otomatis berarti seluruh saham perbankan ikut menguat.
Arus dana asing juga menjadi faktor yang patut dicermati. Data perdagangan September yang dipublikasikan IPOT menunjukkan investor asing mencatatkan jual bersih sekitar Rp10,67 triliun di seluruh pasar. Pada periode tersebut, BBRI menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar, sedangkan BMRI mencatat penjualan bersih asing terbesar. Data bulanan ini memberikan konteks, tetapi belum menggambarkan posisi investor asing pada penutupan Jumat.
Bagi investor ritel, terutama yang memiliki modal terbatas, kenaikan indeks sehari tidak perlu langsung diterjemahkan sebagai sinyal untuk membeli. Pergerakan harga, fundamental perusahaan, valuasi, dan tujuan investasi tetap perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.
Memasuki pekan berikutnya, perhatian pasar akan tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan penguatan dan kembali bergerak stabil di atas level 6.000. Jika tekanan jual muncul kembali, indeks masih berpotensi berfluktuasi. Sebaliknya, penguatan yang bertahan dan didukung transaksi yang sehat dapat menjadi indikasi pemulihan yang lebih meyakinkan. (Red)





