
TANGERANG – Tak banyak yang menjagokan Cape Verde saat undian Grup H Piala Dunia 2026 digelar. Berada satu grup bersama raksasa Eropa Spanyol, dua kali juara dunia Uruguay, serta Arab Saudi, negara kepulauan kecil di Afrika itu diprediksi hanya menjadi pelengkap.
Namun kenyataan berbicara lain.
Cape Verde justru menciptakan salah satu kisah terbesar di fase grup Piala Dunia 2026. Berbekal tiga hasil imbang beruntun, mereka memastikan diri lolos ke babak 32 besar sebagai runner-up Grup H, mendampingi Spanyol yang keluar sebagai juara grup.
Hasil tersebut dipastikan setelah Spanyol menundukkan Uruguay 1-0 melalui gol Álex Baena, sementara Cape Verde bermain imbang tanpa gol melawan Arab Saudi pada laga terakhir Grup H. Spanyol menutup fase grup dengan tujuh poin, Cape Verde mengoleksi tiga poin, sedangkan Uruguay dan Arab Saudi sama-sama mengakhiri perjalanan dengan dua poin.
Keberhasilan Cape Verde menjadi semakin istimewa karena mereka lolos tanpa sekalipun meraih kemenangan. Mereka lebih dahulu menahan Spanyol 0-0, kemudian bermain dramatis 2-2 melawan Uruguay, sebelum kembali mengamankan hasil imbang 0-0 menghadapi Arab Saudi.
Pelatih Cape Verde Pedro Leitão Brito atau yang akrab disapa Bubista sejak awal memang menegaskan bahwa timnya datang ke Amerika Utara bukan sekadar menikmati pengalaman pertama tampil di Piala Dunia. Ia membangun tim dengan identitas permainan yang berani, disiplin, dan tetap berinisiatif meski menghadapi lawan-lawan yang secara kualitas berada di atas mereka. Pendekatan itulah yang akhirnya membuahkan hasil bersejarah bagi negara berpenduduk sekitar setengah juta jiwa tersebut.
Di kubu Spanyol, pelatih Luis de la Fuente mengapresiasi karakter anak asuhnya setelah berhasil melewati grup yang penuh tekanan. Menurutnya, setiap pertandingan di Grup H berlangsung sulit dan menuntut konsentrasi tinggi, sehingga keberhasilan menjadi juara grup merupakan hasil dari ketangguhan timnya sepanjang fase penyisihan.
Sebaliknya, kegagalan Uruguay menjadi salah satu kejutan terbesar turnamen sejauh ini. Tim besutan Marcelo Bielsa datang dengan status favorit untuk mendampingi Spanyol, tetapi hanya mampu mengumpulkan dua poin dari tiga pertandingan. Kekalahan dari Spanyol menjadi penutup perjalanan yang mengecewakan bagi juara dunia 1930 dan 1950 tersebut. Bahkan, laga itu diakhiri dengan kartu merah yang diterima Agustín Canobbio pada menit-menit akhir.
Kejutan Cape Verde sesungguhnya sudah mulai terlihat sejak pertandingan kedua ketika mereka menahan Uruguay 2-2. Dalam laga tersebut, Kevin Pina mencetak gol pertama Cape Verde sepanjang sejarah Piala Dunia, sebelum Hélio Varela menyamakan kedudukan di babak kedua dan menggagalkan kemenangan Uruguay. Hasil itu menjadi titik balik yang membuka jalan menuju fase gugur.
Keberhasilan Cape Verde juga mempertegas bahwa kesenjangan kualitas di sepak bola internasional semakin menipis. Negara yang sebelumnya dipandang sebagai “kuda hitam” mampu bersaing melalui organisasi permainan yang rapi, kedisiplinan bertahan, dan efektivitas dalam memanfaatkan momentum. Prediksi sebelum turnamen yang menempatkan Spanyol dan Uruguay sebagai dua favorit lolos akhirnya dipatahkan oleh semangat dan konsistensi wakil Afrika tersebut.
Di babak 32 besar, tantangan yang lebih berat telah menanti. Sebagai runner-up Grup H, Cape Verde dijadwalkan menghadapi juara Grup J, yakni Argentina. Jika kembali mampu membuat kejutan, kisah dongeng Cape Verde berpeluang menjadi salah satu cerita paling dikenang dalam sejarah Piala Dunia 2026. (red)





