Balita Terbaring Lemah, Campak Jadi Ancaman Nyata Jika Imunisasi Diabaikan!

TANGSEL – Tangis seorang ibu pecah saat melihat anaknya terbaring lemah dengan ruam merah di sekujur tubuh. Demam tinggi yang tak kunjung turun membuatnya panik. Sang anak, yang masih berusia balita, diduga terpapar campak—penyakit yang kerap dianggap sepele, namun bisa berujung serius jika terlambat ditangani.

Kisah itu menjadi pengingat bahwa ancaman campak masih nyata di tengah masyarakat. Penyakit yang sangat mudah menular ini dapat menyerang anak-anak dengan cepat, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) mempercepat pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak dengan strategi jemput bola ke sekolah-sekolah, termasuk Taman Kanak-kanak di wilayah UPTD Puskesmas Bakti Jaya, Kecamatan Setu beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, menegaskan bahwa percepatan ini dilakukan untuk melindungi anak-anak dari risiko yang lebih besar.

“Campak bukan penyakit biasa. Jika tidak dicegah, bisa menimbulkan komplikasi serius. Karena itu, kami hadir langsung untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi,” ujarnya.

Program ini menyasar sekitar 109.000 anak usia 9 hingga 59 bulan di seluruh Tangsel. Imunisasi dilakukan melalui puskesmas, posyandu, hingga satuan pendidikan anak usia dini, agar tidak ada anak yang terlewat.

Bagi sebagian orang tua, keputusan membawa anak untuk imunisasi terkadang masih diiringi keraguan. Padahal, perlindungan ini menjadi benteng utama agar anak terhindar dari penyakit yang bisa mengancam tumbuh kembang mereka.

“Imunisasi campak aman, halal, dan penting. Kami mengajak orang tua untuk tidak menunda, karena pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan,” tambah dr. Allin.

Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal.

“Kami tidak ingin ada anak di Tangsel yang harus merasakan sakit akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Ini adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut berperan aktif, mulai dari orang tua, tenaga kesehatan, hingga lingkungan sekitar, agar cakupan imunisasi dapat tercapai secara maksimal.

Di balik angka target dan program pemerintah, ada harapan sederhana yang ingin diwujudkan: anak-anak tumbuh sehat, bebas dari penyakit, dan dapat menjalani masa kecil tanpa rasa sakit yang seharusnya bisa dicegah. (red)

Artikulli paraprakCisadane Mau Jadi Destinasi Wisata, Wacana Lama atau Benar-Benar Terwujud?
Artikulli tjetërMimpi RSUD Setara Swasta, Siapkah Layanan Kesehatan Tangsel Berbenah Total?