
KOTA TANGERANG – Senja perlahan turun di tepian Sungai Cisadane. Cahaya jingga memantul di permukaan air, sementara ratusan warga Kampung Babakan, Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, berdiri berdampingan di bantaran sungai. Tawa anak-anak, suara guyuran air, dan lantunan doa yang lirih menyatu dalam satu tradisi yang tak lekang oleh waktu: keramas bareng jelang Ramadan 1447 Hijriah.
Bagi warga, ini bukan sekadar mandi bersama. Ini adalah cara sederhana membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci. Gayung plastik dan botol sampo memang menjadi pemandangan biasa, tetapi yang sesungguhnya dibersihkan adalah hati—segala lelah, khilaf, dan beban setahun terakhir.
“Ini sudah jadi tradisi turun-temurun bagi warga Babakan. Dari orang tua kami sampai sekarang masih kami jaga,” tutur Ustaz Ahmad Alfariki, di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Ia mengenang masa ketika orang-orang terdahulu menggunakan merang dari gabah yang dibakar untuk keramas. Asapnya mengepul di tepi sungai, menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kesungguhan dalam menyambut Ramadan.
Kini merang telah tergantikan sampo modern. Namun menurut Ustaz Ahmad, makna ritual tak pernah berubah.
Air yang mengalir dipercaya membawa doa-doa yang dipanjatkan, menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menata jiwa.
“Mandi bareng ini ikhtiar membersihkan diri. Bukan cuma rambut, tapi hati agar lebih siap menghadap Allah di bulan suci,” ucapnya pelan.
Di antara kerumunan, seorang ibu menggandeng tangan dua anaknya. Ia mengaku selalu mengajak keluarganya ikut tradisi ini. “Rasanya lebih tenang.
Seperti ada beban yang luruh bersama air sungai. Setelah ini, hati lebih siap berpuasa,” katanya dengan mata berbinar.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Budaya pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang, Supendi, menilai tradisi ini menyimpan nilai spiritual dan sosial yang kuat.
“Keramas bareng adalah warisan budaya yang bukan hanya tentang kebersihan fisik, tetapi simbol penyucian diri dan penguat silaturahmi. Ini identitas masyarakat Tangerang,” ujarnya.
Ia menambahkan, tradisi tersebut telah diusulkan sebagai warisan budaya tak benda agar terus dijaga oleh generasi muda. Menurutnya, di tengah modernisasi, ritual sederhana seperti ini menjadi pengingat akar budaya sekaligus nilai religius masyarakat.
Bagi warga Babakan, Sungai Cisadane bukan sekadar aliran air. Ia menjadi saksi bisu pertemuan lintas generasi—kakek, orang tua, hingga anak-anak—yang berdiri di air yang sama, menghadap langit senja dengan doa yang sama. Di tepian sungai itu, mereka menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih, lebih ringan, dan penuh harap akan ampunan serta keberkahan. (jn)





