Sibuk Mengejar Kekayaan, Jangan Sampai Kehilangan Tiga Harta Ini. (Ilustrasi)

Kisah Hikmah Jumat

Tiga Harta Paling Berharga yang Sering Dilupakan Manusia

Setiap hari, manusia sibuk mencari harta. Sejak pagi hingga malam, banyak orang bekerja keras untuk mendapatkan uang, membeli rumah, memiliki kendaraan, dan mengumpulkan kekayaan. Sebagian orang bahkan rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi mengejar kehidupan yang lebih sejahtera.

Semua itu memang penting. Harta dapat memenuhi kebutuhan hidup, memberikan kenyamanan, dan membantu manusia menolong sesama. Namun, pernahkah kita bertanya, apakah harta yang paling berharga dalam hidup hanya berupa uang, emas, dan kekayaan?

Ternyata, Rasulullah ﷺ pernah memberikan jawaban yang sangat menyentuh tentang hal ini.

Dalam hadis riwayat Imam at-Tirmidzi nomor 3094, dari sahabat Tsauban r.a., Rasulullah ﷺ menyebutkan tiga karunia yang sangat utama: lisan yang senantiasa berzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri beriman yang membantu suaminya menjaga keimanan.

Pesan ini mengajarkan bahwa kekayaan sejati tidak hanya terletak pada apa yang kita miliki, tetapi juga pada kualitas iman, hati, dan hubungan kita dengan keluarga.

1. Lisan yang Pandai Berzikir

Lisan merupakan bagian tubuh yang sederhana, tetapi pengaruhnya sangat besar. Melalui lisan, manusia dapat menyampaikan kebaikan, menghibur orang yang bersedih, memberikan nasihat, dan mengajak sesama mendekat kepada Allah SWT.

Sebaliknya, lisan juga dapat melukai hati, menyebarkan fitnah, merendahkan orang lain, dan menimbulkan permusuhan.

Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga lisannya agar selalu menghadirkan manfaat. Ia dapat membiasakan diri membaca tasbih, tahmid, tahlil, istigfar, serta mengucapkan perkataan yang baik kepada keluarga dan masyarakat.

Bayangkan, ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan, ia tetap mengingat Allah. Ketika memperoleh keberhasilan, ia mengucapkan hamdalah. Ketika melihat orang lain tertimpa musibah, ia menyampaikan doa dan memberikan penghiburan.

Lisan seperti inilah yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan orang-orang di sekitarnya.

Hikmahnya: Jangan hanya menggunakan lisan untuk membicarakan dunia, tetapi gunakanlah juga untuk mengingat Allah dan menyebarkan kebaikan.

2. Hati yang Pandai Bersyukur

Manusia sering merasa bahagia ketika mendapatkan sesuatu yang baru. Namun, kebahagiaan itu terkadang cepat menghilang ketika melihat orang lain memiliki sesuatu yang lebih banyak.

Orang yang memiliki rumah sederhana ingin mempunyai rumah lebih besar. Orang yang memiliki kendaraan ingin membeli kendaraan yang lebih mahal. Bahkan, orang yang sudah berkecukupan terkadang masih merasa kekurangan karena terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Jika kebiasaan ini terus berlangsung, manusia akan sulit merasakan ketenteraman.

Di sinilah pentingnya memiliki qalbun syakir, yaitu hati yang pandai bersyukur. Hati yang bersyukur menyadari bahwa kesehatan, kesempatan hidup, keluarga, pekerjaan, dan kemampuan beribadah merupakan nikmat Allah yang tidak ternilai harganya.

Syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui kalimat alhamdulillah. Syukur juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Orang yang bersyukur menggunakan hartanya untuk menolong sesama, memanfaatkan ilmunya untuk mendidik, serta menggunakan jabatannya untuk melayani dengan adil.

Ia tidak harus menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Ia juga tidak harus menunggu hidupnya sempurna untuk berbuat baik.

Hikmahnya: Orang yang bersyukur bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita lebih tinggi. Ia tetap berusaha memperbaiki kehidupannya, tetapi tidak membiarkan keinginan menghilangkan rasa syukur atas nikmat yang telah diterimanya.

3. Istri Beriman yang Membantu Menjaga Keimanan

Rasulullah ﷺ juga menyebutkan istri beriman yang membantu suaminya dalam menjaga keimanan. Pesan ini menunjukkan bahwa pasangan hidup bukan sekadar teman berbagi kebahagiaan dunia, melainkan juga pendamping dalam perjalanan menuju rida Allah.

Keluarga yang baik tidak selalu berarti keluarga yang memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, atau penghasilan besar. Keluarga yang baik adalah keluarga yang saling menguatkan dalam kebaikan.

Seorang istri dapat mengingatkan suaminya untuk menunaikan salat ketika kesibukan pekerjaan mulai melalaikan. Ia dapat memberikan nasihat dengan santun ketika suaminya menghadapi godaan untuk melakukan sesuatu yang dilarang agama.

Demikian pula, seorang suami perlu mendukung istrinya dalam beribadah, menghargai pengorbanannya, serta membimbing keluarga dengan kasih sayang dan keteladanan.

Keduanya dapat mendidik anak-anak agar mencintai Al-Qur’an, membiasakan salat, menghormati orang tua, dan peduli terhadap sesama. Mereka juga dapat menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu tetangga yang kesulitan atau memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan.

Dengan demikian, rumah tangga tidak hanya menjadi tempat beristirahat setelah bekerja, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya iman, akhlak, dan amal saleh.

Hikmahnya: Pasangan terbaik bukan semata-mata pasangan yang mampu memenuhi keinginan duniawi, melainkan pasangan yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan membantu menjaga keimanan hingga akhir hayat.

Harta Dunia dan Bekal Akhirat

Ketiga karunia tersebut memberikan pelajaran penting bagi kehidupan kita. Manusia boleh mencari kekayaan, membangun usaha, mengejar karier, dan merencanakan masa depan. Islam tidak melarang umatnya memiliki harta yang halal dan menggunakannya untuk kebaikan.

Namun, jangan sampai kesibukan mencari harta membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar: hubungan dengan Allah, rasa syukur, dan keharmonisan keluarga dalam ketaatan.

Uang dapat membeli tempat tidur yang mahal, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenteraman. Rumah besar dapat memberikan kenyamanan, tetapi tidak otomatis menciptakan keluarga yang penuh kasih sayang. Kekayaan juga tidak menjamin seseorang memiliki hati yang tenang dan lisan yang terjaga.

Karena itu, mari kita memperbaiki cara kita memandang kekayaan. Carilah rezeki yang halal, tetapi jangan lupakan zikir. Tingkatkan penghasilan, tetapi jangan kehilangan rasa syukur. Bangun keluarga yang sejahtera, tetapi jangan abaikan pendidikan iman dan akhlak.

Sebab, pada akhirnya, nilai kehidupan bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, melainkan juga oleh bagaimana kita menggunakan nikmat Allah untuk menjalani kehidupan yang diridai-Nya.

Selamat menyambut Jumat yang penuh berkah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita lisan yang senantiasa berzikir, hati yang pandai bersyukur, dan keluarga yang saling menguatkan dalam keimanan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Oleh : Achmad Haromain

Artikulli paraprakTagihan Kredit Bisa Dicicil, Utang Kehidupan Tak Bisa Ditawar