
KOTA TANGERANG — Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menggelar Masa Ta’aruf (MASTA) dan Studium Generale bagi mahasiswa baru, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Fika Room Hotel Omah tersebut mengusung tema “The Last Expert: Menjadi Magister yang Relevan di Era AI dan Disrupsi.”
Sebanyak 153 mahasiswa baru Program Pascasarjana UMT mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari lima program studi, yakni Magister Manajemen, Magister Pendidikan Agama Islam, Magister Akuntansi, Magister Hukum, dan Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.
Kegiatan MASTA menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik Pascasarjana UMT sekaligus mendapatkan perspektif mengenai tantangan pendidikan dan dunia profesional di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Direktur Program Pascasarjana UMT, Dr. Upik Mutiara, M.H., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru yang bergabung di Program Pascasarjana UMT.
“Selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang. Selamat bergabung dan selamat menempuh proses pendidikan di lingkungan Pascasarjana UMT,” ujar Upik.
Ia menekankan bahwa memasuki pendidikan magister bukan sekadar upaya memperoleh gelar akademik, tetapi merupakan proses untuk meningkatkan kapasitas keilmuan, profesionalisme, sekaligus memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa Pascasarjana perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai akademik dan integritas.
Gelar Bukan Tujuan Akhir
Sementara itu, Prof. Dr. Aris Gumilar, MM. yang hadir sebagai keynote speaker membahas pentingnya relevansi seorang magister di tengah perkembangan AI dan era disrupsi.
Aris menegaskan bahwa gelar akademik merupakan modal, bukan tujuan akhir. Setelah memperoleh gelar magister, lulusan tetap dituntut untuk membangun kompetensi dan menghasilkan karya yang memberikan manfaat.
“Gelar adalah modal, bukan tujuan akhir. Relevansi dibangun melalui kompetensi, karya, adaptasi dan kontribusi,” kata Aris.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman terhadap keberadaan manusia. Jika digunakan secara kritis dan bertanggung jawab, teknologi justru dapat menjadi instrumen yang memperbesar kemampuan manusia.
“Teknologi dapat memperbesar kemampuan manusia jika digunakan secara kritis dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Karena itu, Aris mendorong mahasiswa magister untuk tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal. Perubahan yang berlangsung cepat menuntut seorang magister untuk memiliki semangat belajar secara berkelanjutan.
“Magister masa kini perlu menjadi pembelajar sepanjang hayat,” tegasnya.

Mahasiswa Harus Mampu Merespons Perubahan
Panitia pelaksana, Dr. Ismayudin Yulizar, mengatakan kegiatan MASTA dan Studium Generale dirancang tidak hanya sebagai agenda penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun pola pikir dan kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan.
“Mahasiswa Pascasarjana harus memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kompetensi. Perubahan teknologi, khususnya AI, menuntut kita untuk terus meningkatkan kapasitas agar tetap relevan,” ujar Ismayudin.
Ia menambahkan, perkembangan AI telah memberikan pengaruh terhadap berbagai bidang, termasuk pendidikan, bisnis, pemerintahan, hukum, manajemen, serta berbagai profesi.
Oleh karena itu, mahasiswa Pascasarjana diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami perkembangan tersebut secara kritis serta menggunakannya secara bertanggung jawab.
Kegiatan Studium Generale dengan tema “The Last Expert: Menjadi Magister yang Relevan di Era AI dan Disrupsi” menjadi pengingat bahwa perubahan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
Mengakhiri paparannya, Prof. Dr. Aris Gumilar, MM. menyampaikan pesan kepada para mahasiswa baru agar tidak sekadar menjadi lulusan yang mengikuti perubahan.
“Jangan hanya menjadi lulusan yang mengikuti perubahan. Jadilah insan akademik yang mampu memahami, merespons dan menciptakan perubahan,” pesannya.
Ia menutup dengan sebuah refleksi yang menjadi benang merah kegiatan tersebut:
“Yang menang bukan yang paling pintar, tapi yang relevan.”
Melalui MASTA dan Studium Generale ini, 153 mahasiswa baru Pascasarjana UMT diharapkan memiliki bekal awal untuk menjalani proses akademik sekaligus mempersiapkan diri menjadi insan akademik yang adaptif, kritis, produktif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di tengah perkembangan AI dan disrupsi. (benk)





