
Ketika seorang utusan harus mendekam dalam perut seekor ikan paus,
RAGAnya tidak mampu bergerak untuk jalan keluar,
RASIOnya tidak mampu menghasilkan teori apapun untuk keluar,
RASAnya tidak mampu diluapkan kepada apapun dan siapapun, dan
ROHANInya-lah yang membuat ia bebas dari semua rintangan hidup yang mengurungnya selama 40 hari 40 malam (dalam Riwayat lain selama 3 atau 7 hari).
Raga dibatasi tubuh, membujur kaku, siap ke liang lahat.
Rasio dibatasi huruf-huruf dan angka-angka, siap dikalahkan.
Rasa dibatasi suka dan tidak suka, siap disembunyikan.
Namun Rohani, tiada terbatas, siap menembus batas raga, rasio, dan rasa.
Ketika raga bergerak, saya bekerja keras.
Ketika rasio berpikir, saya bekerja cerdas.
Ketika rasa tersentuh, saya bekerja pantas.
Dan ketika rohani melingkupi, saya bekerja ikhlash.
Kau ajak raga memberi, tiada sedikitpun dilepaskan.
Buat apa memberi orang lain, semuanya milik saya.
Kau ajak rasio memberi, hanya 2,5 persen diwajibkan.
Buat apa melebihkan, hanya sedikit untuk orang lain.
Kau ajak rasa memberi, paling banyak setengah dihibahkan.
Buat apa seluruhnya, buat saya mana?
Kau ajak rohani memberi, seluruhnya kau berikan.
Buat apa saya, kepunyaan saya adalah apa yang saya berikan, untuk bertemu Yang Maha Kuasa.
Kau beri makan raga dengan segala yang melezatkan.
Kau beri makan rasio dengan segala pengetahuan.
Kau beri makan rasa dengan segala luapan hati.
Namun kau beri makan apa untuk rohani?
Sedang rohani-lah yang harus siap menghadap kembali kehadirat Yang Maha Suci.
Ragamu berumur 17, 21, 25, 40 atau 60 tahun.
Rasiomu berumur sekolah dasar, sekolah lanjutan, akademi atau perguruan tinggi.
Rasamu berumur suka dan tidak suka.
Dan berapa umur rohani-mu?
Rohani perlu makan.
Rohani perlu bertambah usia.
Rohani perlu kekuatan.
Dan DZIKIR-lah, makanannya, bertambah usia-nya, kekuatan-nya.
DZIKIR-lah, mengingat Yang Maha Segala.
Dengan salat, dengan doa, dengan bacaan alquran, dengan sedekah, dengan apapun yang membuatmu mengingat Yang Maha Kuasa. Itulah makanan rohanimu, itulah kekuatan rohanimu, itulah sumber energi rohanimu.
Penulis : Muhammad Taufik

