Kabur Usai Tabrak Tokoh Pramuka hingga Tewas, Sopir Fuso Akhirnya Dibekuk Polisi di Bandung

TANGERANG – Duka yang menyelimuti keluarga besar Pramuka di Tangerang Raya dan Banten akhirnya diiringi secercah kelegaan. Setelah hampir sepekan menjadi buronan, polisi berhasil menangkap AD (21), sopir truk Fuso yang diduga menabrak lalu melarikan diri usai menyebabkan meninggalnya tokoh Pramuka senior, Herman Sulistyo (71), atau yang akrab disapa Kak Herman.

Pelaku diamankan jajaran Polresta Tangerang pada Kamis (11/6/2026) malam di kediamannya di Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bersamaan dengan penangkapan tersebut, polisi turut mengamankan kendaraan yang digunakan saat kejadian, yakni truk Fuso hijau bernomor polisi D-8319-GL yang biasa digunakan untuk mengangkut logistik.

Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, mengatakan penangkapan dilakukan setelah tim penyidik melakukan serangkaian penyelidikan berdasarkan keterangan saksi dan jejak kendaraan yang berhasil diidentifikasi dari lokasi kejadian.

“Kami mengamankan satu unit kendaraan roda enam jenis Fuso bernomor polisi D-8319-GL. AD diduga merupakan pengemudi kendaraan tersebut saat peristiwa terjadi,” ujar Indra, Jumat (12/6/2026).

Peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 01.00 WIB di Jalan Raya Serang Kilometer 11, Desa Bitung Jaya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Saat itu, Kak Herman tengah mengayuh sepeda seperti yang biasa ia lakukan dalam berbagai aktivitas kesehariannya. Namun perjalanan tersebut berakhir tragis setelah korban tertabrak truk yang melintas dari arah Bitung menuju Cikupa.

Kasat Lantas Polresta Tangerang, AKP Fery Oktaviari Pratama, mengungkapkan seorang warga sempat berusaha menghentikan kendaraan setelah kecelakaan terjadi. Namun sopir justru memilih menekan pedal gas dan meninggalkan lokasi.

“Ada satu saksi yang mencoba memberhentikan kendaraan tersebut, tetapi pengemudi tidak berhenti dan langsung melanjutkan perjalanan,” kata Fery.

Keberhasilan pengungkapan kasus ini berawal dari ketelitian warga yang sempat memotret nomor polisi truk sebelum kendaraan itu menghilang. Dari foto tersebut, polisi melacak keberadaan kendaraan hingga akhirnya menemukan truk berada di wilayah Bandung dan menangkap pengemudinya.

Kepada penyidik, AD mengaku melarikan diri karena panik dan takut menjadi sasaran amukan massa setelah mengetahui telah menabrak korban. Meski demikian, polisi tetap mendalami unsur pidana dalam kasus tersebut dan memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kepergian Kak Herman meninggalkan luka mendalam bagi keluarga besar Pramuka. Sosok yang dikenal sederhana dan konsisten mengamalkan nilai-nilai kepramukaan itu selama puluhan tahun menjadi inspirasi bagi generasi muda di Tangerang Raya hingga Banten. Ia dikenal selalu mengenakan seragam Pramuka lengkap dan memilih bersepeda saat menghadiri berbagai kegiatan kepramukaan.

Ribuan pelayat mengiringi perjalanan terakhirnya. Jenazah Kak Herman disalatkan di Masjid Raya Al-A’zhom Kota Tangerang sebelum dimakamkan di TPU Rawa Kucing, Kecamatan Neglasari, dengan prosesi penghormatan kepramukaan yang berlangsung khidmat. Kini, keluarga dan sahabat berharap pengungkapan kasus ini dapat menghadirkan keadilan bagi sosok yang selama hidupnya mengabdikan diri untuk pendidikan karakter generasi muda. (red)

Artikulli paraprakPemkot Tangsel Bidik Efek Ganda MBG untuk Gizi Anak dan Ekonomi Warga
Artikulli tjetërPilar: Jangan Abaikan Sensus Ekonomi 2026, Masa Depan Pembangunan Tangsel Ditentukan dari Data Warga