Program Ada, Tapi Apakah Lansia Tangsel Sudah Sejahtera?

TANGSEL – Angka lansia di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini menembus sekitar 170 ribu jiwa. Di atas kertas, ini bisa dibaca sebagai keberhasilan pembangunan—tanda bahwa usia harapan hidup meningkat dan layanan kesehatan membaik. Namun di balik itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kota ini benar-benar siap menghadapi masyarakat yang semakin menua?

Pemerintah telah menghadirkan berbagai program, mulai dari Gebyar Lansia hingga Sekolah Lansia. Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, juga menegaskan pentingnya menjaga kesehatan dan produktivitas kelompok usia ini. Tetapi, program yang baik di atas kertas belum tentu menjawab realitas di lapangan.

Masih banyak lansia yang hidup dalam keterbatasan akses—baik layanan kesehatan, ruang publik yang ramah, maupun dukungan sosial yang memadai. Trotoar belum sepenuhnya aman, fasilitas umum belum seluruhnya inklusif, dan tidak semua lansia memiliki ruang untuk tetap aktif secara ekonomi.

Dorongan agar lansia tetap produktif juga perlu dibaca secara kritis. Produktivitas tidak bisa disamaratakan. Bagi sebagian lansia, bertahan sehat saja sudah menjadi perjuangan harian. Di titik ini, pendekatan kebijakan tidak bisa sekadar normatif, tetapi harus empatik dan berbasis kebutuhan nyata.

Di sisi lain, meningkatnya jumlah lansia seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk bertransformasi menuju kota ramah lansia (age-friendly city)—bukan hanya melalui program seremonial, tetapi lewat desain kota, layanan kesehatan, transportasi, hingga sistem perlindungan sosial yang menyeluruh.

Jika tidak diantisipasi dengan serius, lonjakan populasi lansia berpotensi menjadi beban baru—bukan karena mereka lemah, tetapi karena sistem yang belum siap mendukung kehidupan mereka secara layak.

Kota Tangerang Selatan kini berada di persimpangan: melanjutkan program yang ada sebagai rutinitas tahunan, atau benar-benar melakukan lompatan kebijakan yang menjadikan lansia sebagai bagian penting dari pembangunan, bukan sekadar objek perhatian.

Karena pada akhirnya, cara sebuah kota memperlakukan lansianya adalah cerminan kualitas kemanusiaan kota itu sendiri. (red)

Artikulli paraprakAnak Muda Tangsel Sudah Diedukasi, Tapi Bisakah Lawan Politik Uang?
Artikulli tjetërHari Bumi 2026, Kota Tangerang Dorong Aksi Nyata Lingkungan dari Warga